Tampilkan postingan dengan label Nonfiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nonfiksi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 November 2019

Menghindari Obesitas ala Orang Jepang

Ketika menonton berita, film atau tayangan apapun tentang orang Jepang, kita akan sangat jarang melihat orang gemuk. Hampir sebagian besar orang Jepang memiliki postur tubuh yang ideal atau bahkan bisa kita sebut kurus jika dibandingkan dengan orang Indonesia. Konon katanya, tingkat obesitas di Jepang hanya sebesar 3,5 persen dari total jumlah penduduknya. Angka tersebut sangat berbeda dengan tingkat obesitas di Indonesia yang mencapai 21,8 persen pada tahun 2018, menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementrian Kesehatan. Hal ini bukan disebabkan karena mereka kekurangan gizi, justru karena mereka sangat sadar akan pentingnya nutrisi. Dengan tingginya tingkat kepedulian terhadap kesehatan, tak heran jika angka harapan hidup penduduk Jepang tergolong tinggi yaitu mencapai 85 tahun. 

Berikut beberapa hal yang menjadikan orang Jepang bisa memiliki postur tubuh yang ideal dan terhindar dari obesitas:

1. Bahan makanan tinggi nutrisi dan gizi seimbang

Dalam kehidupan sehari-harinya, orang Jepang selalu mengkonsumsi makanan dari bahan yang segar, tinggi nutrisi dan seimbang gizinya. Ikan, kedelai, beras, sayur dan buah merupakan bahan makanan yang sering kita jumpai pada makanan khas Jepang. Tingkat konsumsi ikan dari penduduk Jepang tergolong tinggi yaitu mencapai 86 kg per kapita per tahun. Tidak heran kalau banyak orang pintar di Jepang. Karena ikan yang dikonsumsi mengandung tinggi protein, omega-3 dan DHA yang mampu merawat saraf & kesehatan otak juga meningkatkan daya ingat otak.

2. Mengolah makanan dengan sederhana untuk mempertahankan kadar nutrisi

Makanan Jepang diolah dengan cara yang sederhana agar tidak mengurangi bahkan menghilangkan kadar nutrisi di dalamnya. Cara mengolah atau memasak merupakan kunci dari makanan Jepang. Mereka hanya memasak dengan cara mengukus, memanggang, menumis, menggoreng cepat dalam minyak sedikit, bahkan banyak juga bahan makanan yang dimakan mentah. Orang Jepang jarang sekali memasak dengan suhu tinggi dan dalam waktu yang lama, karena menurut mereka hal itu akan menghilangkan kandungan nutrisi di dalam makanan. Makanan Jepang minim sekali bumbu, sangat berbeda dengan makanan Indonesia yang terkenal dengan banyak bumbu dalam makanan tradisionalnya. Mereka lebih mementingkan nutrisi daripada rasa. Orang Jepang juga lebih suka memasak sendiri makanannya dibanding membelinya di restoran. Tak heran jika  banyak dijumpai karyawan yang membawa bekal ke tempat kerjanya.

3. Menyajikan makanan dengan porsi kecil

Cara menyajikan makanan Jepang tergolong unik dan berbeda dari negara-negara lain. Di Jepang, makanan disajikan dalam porsi kecil dan tidak sampai penuh. Seluruh makanan mulai dari pembuka sampai penutup disajikan bersamaan dimana setiap jenis makanan diletakkan pada mangkok atau piring terpisah. Cara ini dipercaya bisa membuat orang lebih awas terhadap porsi makannya dan menghindari makan secara berlebihan.

4. Menikmati makanan dengan perlahan

Orang Jepang memiliki kebiasaan untuk makan secara perlahan dan berhenti sebelum kenyang. Makan perlahan memang memiliki manfaat yang baik untuk tubuh. Ketika makan dengan perlahan, maka kita akan lebih cepat kenyang sehingga porsi makan akan terjaga alias tidak berlebihan. Selain itu dengan makan perlahan maka makanan akan dikunyah sampai halus sehingga lambung tidak perlu bekerja keras mencerna makanan. Nutrisi makanan akan lebih mudah diserap oleh tubuh.

5. Suka jalan kaki dan bersepeda

Sebagian besar penduduk Jepang memanfaatkan moda transportasi publik seperti kereta api dalam kegiatan sehari-harinya. Perjalanan dari rumah ke stasiun, lalu dari stasiun ke tempat kerja, belanja, dll ditempuh dengan jalan kaki. Orang Jepang rata-rata berjalan kaki sebanyak 8.000 langkah per hari yang bisa membakar kalori sebanyak 220 kalori. Selain itu, sepeda juga menjadi alat transportasi favorit penduduk Jepang. Sepeda merupakan kendaraan wajib bagi murid sekolah dasar dan sekolah menengah di sana. Sehingga ketika dewasa, mereka sudah terbiasa untuk bersepeda kemana-mana.

6. Memperoleh pengetahuan tentang nutrisi sejak dini

Sekolah dasar dan menengah di Jepang menyediakan makan siang untuk murid-muridnya. Makanan yang disediakan tentunya tidak sembarangan. Ada ahli gizi yang dipekerjakan di setiap sekolah untuk memastikan menu makan siang yang disajikan mengandung nutrisi tinggi dan gizi seimbang. Bukan hanya itu, para ahli gizi di sekolah juga memastikan proses pengolahan makanan atau cara memasaknya juga benar agar kadar nutrisinya terjaga. Dari makan siang itulah murid-murid dikenalkan terhadap menu makanan yang baik  dan benar.

7. Rutin mengkonsumsi teh hijau

Dalam makanan Jepang, jarang ditemui makanan penutup terutama yang manis-manis seperti di Eropa. Kalaupun ada, buah dan teh hijau (ocha) menjadi pilihan menu penutup. Teh hijau merupakan minuman wajib yang harus tersedia setiap hari. Orang Jepang bahkan katanya bisa meminum teh hijau sebanyak 2 liter sehari. Teh hijau dipercaya bisa mengurangi penyerapan lemak dalam tubuh, meningkatkan intensitas pembakaran lemak, menurunkan kadar kolesterol & tekanan darah, juga meredakan stres dan depresi. Tentunya teh hijau dinikmati tanpa gula sehingga rasa yang didapatkan tawar dan cenderung pahit. 

8. Terikat aturan pemerintah

Pemerintah Jepang memiliki peraturan yang unik terkait dengan kegemukan atau obesitas. Lingkar pinggang pria ditetapkan maksimal sebesar 33,5 inch dan lingkar pinggang wanita maksimal 35,4 inch. Jika melebihi ketentuan ini, maka akan dikenakan denda dan wajib melakukan diet. Bahkan, jika suatu perusahaan memiliki karyawan yang kegemukan atau obesitas maka perusahaan tersebut diharuskan menanggung biaya diet karyawannya itu. Sungguh peraturan yang sangat unik.

Bagaimana? Apakah kalian mau mencoba cara menghindari obesitas ala orang Jepang?

Senin, 11 Juni 2018

Menulis Resensi Buku

Semangat pagi Penikmat Kopi, 

Kali ini aku akan berbagi info tentang cara menulis resensi buku. Jangan berhenti pada halaman terakhir bukumu ketika membacanya. Tapi tulislah resensinya agar orang lain tahu mana buku-buku yang menarik untuk dibaca. 

Unsur-unsur resensi buku, antara lain:

1. Judul
📓 Judul, buat yang menarik seperti halnya kita membuat tulisan. Tapi klo aku biasanya to the point aja, langsung resensi buku bla bla gitu judulnya biar jelas. (Jangan ditiru ya, itu malas mikir saja sih aslinya)✌🏻

2. Data buku:
🔖 Judul
Tulis selengkap-lengkapnya termasuk subjudul, volume dan kawan-kawannya itu.
🔖 Pengarang
Kalau buku terjemahan tuliskan nama pengarang dan penerjemahnya aja. Kalau buku lokal gak usah kita terjemahin pake google translate. Apalagi diterjemahin ke bahasa Padang atau Suroboyoan. Itu berat.
🔖 Penerbit
Tulis perusahaan penerbitan plus kotanya
🔖 Tahun terbit
Tuliskan tahun terbit buku yang kita resensi, lengkapi dengan info edisi/cetakan ke berapa. Karena buku2 best seller biasanya sampai beberapa kali cetak.
🔖 Dimensi/tebal buku
Tuliskan ukuran buku. Kalau ada info panjang, lebar, dan tinggi tuliskan saja jangan kau pendam sendiri. Kalau gak ada, cukup info jumlah halaman. 
🔖 Harga buku
Cantumkan harha buku apa adanya gak usah ditambah gak usa dikurangi. Kan ceritanya mau nulis resensi, bukan jualan. 🙈

3. Ikhtisar
Hati-hati dalam menulis ikhtisar. Jangan sampai spoiler. Cukup buat sinopsis cerita dari buku yang kita baca, gak perlu urut sesuai urutan kronologis dalam buku. Bebas aja, ceritakan hal-hal menariknya. 
Ingat, jangan bocorkan saldo buku tabungan Anda. Eh, jangan bocorkan keseluruhan isi buku bacaan Anda.

4. Penilaian
Ceritakan kelebihan dan kekurangan buku, baik dari sisi konten maupun fisik. Aku pernah baca buku bagus tapi tulisannya terlalu kecil atau kertasnya terlalu tipis. Penilaiannya dalam bentuk cerita lho bukan dalam bentuk nilai raport.

5. Penutup

Kita bisa kasih kritik saran buat penerbit atau pengarangnya. Atau bisa juga kasih saran  buat pembaca, misal buku ini cocok untuk para jomblo yang menantikan jodoh terbaiknya tapi belum tahu apa yang harus dilakukan dalam penantian panjangnya itu.


#30DWCJilid13 #Squad10 #Day25

Sabtu, 09 Juni 2018

Jika Rencana Pertama Gagal

Semangat pagi Penikmat Kopi,

Ada yang sudah bersiap untuk mudik ke kampung halaman? Atau malah sudah ada yang berangkat memulai perjalanan panjang?

Aku belum berangkat dan belum siap-siap mudik nih. Dua minggu terakhir gak sempat sama sekali memikirkan persiapan mudik. Pekerjaan kantor luar biasa banyaknya, padat merayap mirip jalan pantura saat musim mudik lebaran. Bukan hanya pekerjaan yang bisa diselesaikan di atas meja tapi juga pekerjaan lapangan. Wuih, bulan puasa harus ke lapangan itu ternyata benar-benar membutuhkan energi besar. 

Meski belum menyiapkan apapun, awalnya aku tenang karena pengajuan cuti tambahanku besar kemungkinan disetujui oleh atasan. Aku mengajukan tambahan cuti 2 hari setelah cuti bersama. Maklum, rute mudik kita jauh, Pekalongan - Purworejo - Malang. Kalau gak menyediakan waktu yang panjang kok rasanya rugi ya. 

Sampai hari terakhir kerja kemarin aku masih berusaha jungkir balik menyelesaikan pekerjaan. Pulang agak terlambat demi kata tuntas sebelum libur lebaran. Maksud hati bagitu sampai rumah langsung bisa tersenyum cerah dan berkata aku siap liburan. Tapi ternyata aku disambut dengan wajah muram suami yang cutinta dibatalkan. 

Rasanya langsung gak mampu tersenyum. Cuti tambahan 2 hari sangatlah berarti, karena selain mengunjungi orang tua, kita berencana sekalian liburan. Hanya itu kesempatan kita mengajak anak-anak jalan-jalan di tengan libur panjang kenaikan kelasnya. 

Aku dan suami sama-sama bingung. Kasian anak-anak dan juga kakeknya. Waktu berkunjung ke rumah kakeknya jadi lebih pendek. Waktu jalan-jalan mereka juga semakin sempit. 

Tapi alhamdulillah selepas salat magrib dan salat tarawih, hati kita sudah bisa lebih tenang. Aku dan suami mengatur lagi agenda mudik kita. Mencoba mencari rute mudik yang lebih cepat, menentukan destinasi wisata yang baru, dan yang pasti mencari penginapan juga. Bisa ditebak dong penginapan di musim mudik itu bakal penuh semua. 

Saking asyiknya mengagendakan ulang jadwal mudik, gak kerasa ternyata sudah  hampir jam 12 malam. Dan hasilnya kita kesiangan bangun sahur. Kita baru bangun pas azan subuh. Astaghfirullah. 

Buat pengalaman nih, Penikmat Kopi. Jika rencana pertama gagal, coba terima dulu kenyataan dengan tenang. Kalau sudah bisa tenang, coba agendakan ulang. Tapi jangan sampai terlalu menggebu-gebu sampai lupa istirahat ya. Nanti badan malah protes minta hak istirahatnya alias meriang menjelang lebaran kan gawat. Hehehe.

Baiklah, Penikmat Kopi, sekian curahan hati dari aku yang lagi galau ini. Selamat menikmati perjalanan mudik buat kalian ya. Semoga lancar dan selamat sampai tujuan. 


#30DWCJilid13 #Squad10 #Day23

Jumat, 08 Juni 2018

Curahan Hati Si Writer Wanna Be

Semangat pagi Penikmat Kopi,

Aku mau curhat, nih. Hari ini aku lagi kehabisan ide, gak tahu mau nulis apa. Setelah beberapa hari full energy untuk belajar menulis fiksi, lalu baterai mulai melemah. Ketika baterai melemah, langkah paling aman adalah menulis puisi. Ketika kita menguntai kata menjadi sebuah puisi yang diperlukan adalah mengeluarkan isi pikiran dengan lancar. Mungkin tantangannya adalah memilih kata dan diksi yang pas. Tapi kalau menulis fiksi ampun, banyak banget yang harus dipikirkan. Tokoh, alur cerita, konflik, latar tempat dan sepertinya masih banyak yang harus dipikirkan. 

Salut sama para penulis novel yang tentunya butuh waktu lama untuk melakukan riset demi mendapatkan karakter tokoh yang pas, latar tempat yang detail, konflik yang keren, dan juga alur cerita yang menarik. Salut juga sama teman-teman yang bisa menulis fiksi semudah saya menulis status di sosial media. Ketik, ketik, ketik, jadilah sebuah fiksi yang sederhana tapi bagus ceritanya. 

Perlu kerja keras buatku belajar menulis fiksi. Menulis dengan penuh perasaan, meresapi setiap kata per kata yang kutuliskan. Alhamdulillah sekarang sedang berada dalam satu grup dengan teman-teman beraliran fiksi. Dan yang terpenting mereka baik hati, tidak sombong, dan rajin berbagi ilmu menulisnya. Aku menjadikan tulisan-tulisan mereka sebagai referensi belajar. Mempelajari kata per kata. Meski ada waktunya juga aku lelah. 

Lelah dan harus tetap menulis. Membagi pikiran antara penyelesaian pekerjaan kantor yang harus kelar sebelum libur lebaran dan menyiapkan semua keperluan mudik saja sudah cukup bisa jadi alasan aku kehabisan ide. Tapi karena tetap harus menulis, jadilah kutulis curahan hati ini. Melepaskan beban perasaan. Bukankah menulis adalah salah satu terapi untuk menjaga kewarasan diri? 

Baiklah cukup sekian curahan hati dari si writer wanna be.

#30DWCJilid13 #Squad10 #Day22

Sabtu, 19 Mei 2018

RCO Buatku Bertanya, Hobiku Apa?


Semangat pagi Penikmat Kopi,

Kalau kalian ditanya tentang hobi, apa jawabannya? Hampir 80% orang akan menjawab hobinya adalah membaca. Benar gak?

Membaca itu adalah salah satu jenis hobi yang paling mudah disebutkan. Entah mereka benar-benar suka membaca atau karena gak punya ide lain untuk menjawab pertanyaan. 

Aku sendiri selalu menyebutkan kalau hobiku adalah membaca. Dulu pernah menjawab makan dan tidur sebagai hobi, tapi kata guru SD-ku itu bukan hobi tapi mauku aja makan tidur makan tidur. Hahaha bukan kok, guruku bilang kalau makan dan tidur itu kebutuhan bukan hobi. Ya sudah akhirnya aku tulis aja kalau hobiku itu membaca. 

Sekian lama aku menyandang gelar si kutu buku yang waktu lulus kuliah bawa pulang dua kardus buku dari kosan dan sayangnya semua novel bukan buku pelajaran. Beberapa minggu terakhir, gelar itu tiba-tiba harus dipertanyakan. 

Reading Challenge ODOP (RCO) membuatku mempertanyakan hobiku sendiri. Apa benar hobiku membaca?

Ditantangin membaca setiap hari dengan tema dan jumlah minimal halaman yang ditentukan ternyata gak mudah buat aku yang mengaku hobi membaca ini. Padahal awalnya agak sombong, apa beratnya ikut RCO. Kan aku emang hobi baca. Dan benarlah adanya nasihat-nasihat yang disampaikan pada buku dongeng anak-anak, "Janganlah kau sombong kawan!"

RCO itu berat, jangan kami saja. Kalian juga harus merasakan. 

Gimana gak berat, kami harus baca buku sejarah, buku biografi, bahkan buku berbahasa asing. Aku emang hobi baca tapi gak buku-buku bertema itu juga kaliiiii. RCO benar-benar menarik aku dari zona nyaman. RCO juga menjebakku pada satu pertanyaan. Jadi hobiku apa?

Benarkah hobiku membaca, kalau aku hanya suka membaca novel saja? Bahkan membaca komik saja aku pusing. Sepertinya aku harus terus ikut RCO part berikutnya biar aku bisa menyandang gelar omnivora dalam bidang membaca. Pemakan segala jenis buku dan alirannya. 

Thanks a bunch RCO, moga terus djaja di udara. Btw, next time RCO diberlakukan buat peserta ODOP baru dong biar menulis dan membaca berjalan bersama. Karena sejatinya mereka adalah dua sejoli yang tak terpisahkan seperti duet maut pije RCO, Lutvi dan Sovia.

#RCO
#ReadingChallengeODOP
#Tantangan3

Jumat, 18 Mei 2018

Ada Apa Dengan Sirup dan Ramadhan?



Semangat pagi Penikmat Kopi,

Selamat menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan ya. Semoga kita bisa mendulang pahala di bulan penuh berkah ini. 

Kalau berbicara tentang Ramadhan, ada satu hal yang selalu melekat erat dalam benak kita selain rangkaian ibadah yang harus kita lakukan tentunya. Satu hal yang sangat sering muncul di TV sebagai tanda Ramadhan akan segera tiba. Bahkan ketika penetapan hari pertama puasa belum diumumkan, satu hal ini sudah jadi penanda tersendiri. 

Yup, satu hal itu adalah sirup. 

Beberapa hari menjelang Ramadhan biasanya iklan sirup sudah bertebaran. Bukan hanya iklannya saja, minimarket sampai supermarket sudah sibuk memajang sirup pada deretan terdepan tokonya. Dan ini rasanya sudah terjadi sejak lama. 

Ada hubungan apa sih antara sirup dan Ramadhan?

Menyajikan sirup pada saat berbuka puasa baik diseduh langsung dalam bentuk minuman dingin maupun menjadi campuran es buah atau es campur sudah menjadi tradisi yang turun temurun.  Slogan 'Berbukalah dengan yang manis' menjadi andalan dan alasan untuk menjadikan sirup sebagai primadona di bulan puasa. Penjualan sirup meningkat drastis di bulan ini. Produsen sirup meningkatkan intensitas iklannya dengan kemasan cerita-cerita yang menarik. Pihak penjual juga meningkatkan stok sirupnya pada bulan Ramadhan.

Sebenarnya darimana asal slogan 'Berbukalah dengan yang manis?'

Ternyata slogan berbukalah dengan yang manis adalah hasil pemikiran tidak utuh atas hadits Rasul. Padahal Rasul menganjurkan kita untuk berbuka dengan kurma, jika tidak ada maka cukup dengan air putih saja. 

"Biasanya Rasulullah berbuka puasa dengan ruthab sebelum sholat maghrib. Jika tidak ada ruthab (kurma muda) maka dengan tmar (kurma matang), jika tidak ada tamr maka beliau meneguk beberapa tegukan air"

(HR. Abu Daud)
Manisnya rasa kurma pada akhirnya membuat hadits ini disalah tafsirkan menjadi berbukalah dengan yang manis. Padahal pada hadits tersebut sudah jelas disebutkan jika tidak ada kurma maka Rasulullah hanya meneguk beberapa tegukan air.

Kurma mengandung karbohidrat kompleks dan kadar glikemiks indeksnya rendah. Jika kita mengkonsumsi makanan dengan karbohidrat kompleks dan kadar glikemiks indeks yang rendah, energi akan dilepas perlahan-lahan sehingga lebih tahan lama, dan respon insulin juga rendah. Jadi kurma aman dikonsumsi ketika berbuka puasa. Akan tetapi yang perlu menjadi catatan, kurma dengan karbohidrat kompleks dan GI rendah adalah kurma asli yang masih segar. Kurma segar nutrisinya sangat tinggi tapi kalorinya rendah. Sedangkan di Indonesia kebanyakan yang beredar di pasaran adalah manisan kurma yang mengandung gula sangat banyak untuk keperluan pengawetan.

Lalu bagaimana dengan sirup?

Sirup mengandung kadar gula dan glikemik indeks yang sangat tinggi. Padahal ketika berpuasa, kadar gula dalam darah kita menurun. Jika perut kita yang kosong seharian langsung diisi dengan makanan atau minuman yang tinggi gula maka respon insulin dalam tubuh akan melonjak. Dengan kata lain gula darah dalam tubuh pun akan meningkat dengan cepat. Hal ini sangat tidak sehat dan tidak baik untuk tubuh. Selain itu, makin tinggi respons insulin dalam tubuh, maka akan meningkat juga respon tubuh untuk menimbun lemak.

Teori ini sejalan dengan hadits Rasulullah yang menganjurkan untuk berbuka dengan kurma, jika tidak ada maka cukup berbuka dengan air putih saja. Ingat ya, kurma itu tidak dapat digantikan dengan sirup atau makanan minuman manis lainnya. 

Jadi masih mau berbuka dengan yang manis?

 #RWC #RamadhanWritingChallenge #ODOP #OneDayOnePost #Day1

Sabtu, 21 April 2018

Usai Bukan Selesai

Semangat pagi Penikmat Kopi.

Tiga puluh hari itu ternyata gak lama ya. Tanpa terasa kami para peserta #30DWCJilid12 sudah sampai di penghujung masa. Program 30 day's writing challenge telah usai, tapi bukam berarti langkah kami dalam dunia kepenulisan telah selesai. Masih panjang perjalanan kami untuk menimba ilmu dalam dunia ini. Ada cita-cita besar yang harus dicapai. 

Ada beberapa hal menarik yang perlu aku catatkan selama mengikuti program ini. Ada kata-kata dari mentor yang cukup membuatku berpikir. Apa tujuanmu menulis? Apakah hanya untuk menjaga konsistensi menulis setiap hari? Apa manfaat tulisan-tulisanmu selama ini? Apa yang kamu tulis sudah bisa dikatakan sebagai rancangan naskah bukumu?

Aku terpaksa mengingat lagi tujuanku menulis. Aku menulis untuk bahagia. Tujuan yang ini memang masih untuk diri sendiri. Dan dengan rutin menuliskan apa yang ada dalam pikiran setiap hari, aku rasa cukup membuatku bahagia. Menulis bisa menjaga kewarasan diriku untuk berada pada tingkat stabil. 

Tujuan berikutnya adalah berbagi kebaikan melalui tulisan. Selama ini aku pikir dengan berbagi pengalaman kehidupanku sehari-hari akan cukup membawa kebaikan untuk orang lain. Meski tidak banyak setidaknya ada sejumput hikmah yang bisa dipetik dari ceritaku. Ada sedikit manfaat yang bisa dipelajari dari kisah hidupku. 

Tapi kata-kata dari mentor membuatku menelaah kembali semua proses ini. Terbersit bayangan untuk mengemas tulisan-tulisanku dalam bentuk yang lebih baik dan dibukukan. Bukankah itu akan lebih bermanfaat bagi pembacanya? 

Ah, buku. Untuk yang satu ini idealismeku terlalu tinggi. Aku selalu menyamakan penulis dengan penyanyi. Keduanya bisa diterbitkan melalui dua jalan, mayor dan indi. Butuh kerja keras untuk menjadi penulis dan penyanyi yang dilahirkan dari jalan mayor. Tulisan dan suaramu harus dipastikan benar-benar bagus sebelum dinikmati oleh orang-orang di luar sana. Harus banyak berlatih, harus sabar melaui berkali-kali penolakan. Tapi ketika kamu berhasil, tulisan dan lagumu benar-benar bisa dinikmati dengan baik dan nyaman oleh pembaca dan pendengarnya. 

Lalu bagaimana dengan buku dan lagu indi? Sebenarnya banyak penulis dan penyanyi yang menerbitkan buku dan lagunya secara indi tapi memiliki kualitas yang bagus. Tapi banyak juga yang menempuh jalan ini demi status dikenal sebagai seorang penulis dan penyanyi. Ketika kalian mendengarkan deretan lagu masa kini, pasti pernah berkomentar, "Ini lagu apa sih? Kayak gini kok bisa 'dijual'?" 

Dari kualitas lagu, lirik apalagi dari teknik vokal penyanyinya banyak yang sebenarnya belum layak untuk dibilang penyanyi. Nah, yang semacam ini apa bisa dibilang bermanfaat? 

Analoginya sama dengan penulis. Gak jarang aku menemukan buku-buku teenlit ataupun genre lain di toko buku yang dicetak dari penerbit kurang terkenal. Banyak dari mereka isi ceritanya mirip-mirip. Gak ada ide baru. Itu buku yang diterbitkan secara mayor lho. Hanya penerbitnya tidak terlalu besar. Itu saja sudah seperti acara telivisi yang harusnya gak layak lolos saringan KPI tapi entah bagaimana bisa tayang setiap hari. Apalagi dengan buku yang diterbitkan secara indi. Tanpa banyak melalui proses editing dan pengolahan tulisan lebih jauh lagi tiba-tiba ribuan eksemplar buku indi beredar.

Nah, pertanyaan-pertanyaan dari mentor #30DWC berhasil menguliti idealismeku ini. Ketika kamu berstatus menerbitkan buku, apakah tulisan-tulisanmu itu sudah layak? Apa manfaat dari tulisan-tulisanmu? Apa semua tulisan yang akan kamu terbitkan sudah layak disebut sebagai naskah? 

Ya mentor, #30DWCJilid12 telah usai tapi perjuanganku untuk  belajar membuat tulisan yang bermanfaat dan tulisan yang layak disebut naskah buku belum selesai. Aku masih butuh ditempa dan dikritik oleh banyak pembaca. Aku harus menambah daftar tujuan menulisku, bukan hanya untuk bahagia dan bermanfaat saja. Aku harus menjadi penulis buku agar tulisan-tulisanku memiliki kebermanfaatan yang lebih besar bagi pembacanya.





#30DWC #30DWCJilid12 #Squad3 #Day30

Selasa, 17 April 2018

Blog, Kepingan Puzzle Cerita Hidupku

Semangat pagi Penikmat Kopi.

Tau gak sih, beberapa hari lalu aku menemukan sebuah catatan dari memori facebook. Di sana tertulis kalau aku punya blog yang berjudul DuniaKataKu. Astaga ini benar-benar seperti menemukan harta karun di dasar lautan. 

Mataku berbinar dan jariku bergerak cepat menelusuri alamat yang tertera. Memoriku berjalan mundur ke masa lalu. Aku tersenyum sendiri membaca satu per satu tulisan yang ada di dalamnya. Oh Tuhan, semua tulisan ini mengingatkanku akan semua peristiwa di masa itu.

Selama ini aku menyangka blog pertamaku adalah Sejuta Kata. Ternyata aku salah, tulisan pertama DuniaKataKu tertanggal 2 Januari 2009. Sedangkan tulisan pertama Sejuta Kata tertanggal 5 Juni 2012. Tapi keduanya memiliki kesamaan yaitu sama-sama tak teringat alasan dan motivasiku membuat blog-blog itu. Satu hal yang pasti, semua tulisan yang ada di dalamnya benar-benar melengkapi susunan puzzle cerita hidupku.

Meski sebenarnya ada lagi yang lebih tua dari dua blog itu. Pada masa kuliah tahun 2003 sampai 2007 aku juga sudah aktif menulis. Dulu sosial media yang paling banyak dipakai adalah friendster. Platform ini menyediakan menu blog khusus untuk penggunanya. Banyak puisi yang aku tuliskan di sana. Setelah friendster menghilang, hanya sebagian saja yang masih sempat aku selamatkan. Catatan masa mudaku, masa perjuangan dan masa penuh kegalauan. Semua cerita masa kuliah mulai dari beratnya belajar di sekolah kedinasan, kehidupan sebagai anak kosan yang jauh dari orang tua dan tak ketinggalan cerita cinta anak muda. Termasuk pula cerita pertemuan dengan pujaan hati yang sekarang menjadi pendamping hidupku. Friendster dan friendster's blog menjadi saksi perjalanan cinta kami.

Sejuta Kata yang aku kira adalah blog pertamaku berisi tentang catatan hidup setelah 3 tahun masa menikah. Sebagian besar isinya menceritakan tentang keluarga, kehidupan kantor, dan juga kegemaranku menulis. Karya berupa puisi sudah berkurang jumlahnya dibanding masa menulis di friendster dulu. Tulisan-tulisanku dalam blog bisa dibilang memiliki genre full curhat

Tapi sungguh tidak ada yang salah dengan tulisan berisi curhat. Karena ketika membacanya kembali, aku bisa menertawakan masa lalu dan mensyukuri masa kini. Itulah gunanya menulis. Tulisan-tulisanku dalam blog seperti kepingan puzzle cerita hidupku. Tak banyak orang yang mampu menuliskan kisah hidupnya. Dan aku bisa. Tak banyak orang yang mampu mengingat secara detail apa saja yang pernah dilalui di masa lalu. Dan tulisanku bisa. 

Setelah menemukan blog pertamaku beberapa hari lalu, aku membacanya dengan perlahan. Ahhhhh, aku terbuai kembali pada masa lalu. Tahun 2009 adalah masa penuh warna. Perjuangan mempertahankan cinta menuju pernikahan, kehamilan pertamaku yang berujung keguguran, kehilangan ibu yang sama sekali tak bisa aku saksikan dan juga cerita bahagia tentang kelahiran.

Tulisan yang aku baca bukan jenis blog dengan tata bahasa yang sempurna. Benar-benar hanya sebuah catatan harian yang menyampaikan isi hati dan pikiran. Tapi sekali lagi tak ada yang salah dengan genre curhatan. Karena tak semua orang mampu mengenang kembali masa lalu seperti yang aku lakukan.

Semua blog yang pernah aku punya mungkin tidak sama dengan milik kalian. Ada yang menggunakan blog untuk mencari pundi-pundi, ada yang menggunakan blog untuk sarana menebar ilmu yang perlu dibagi. Dan aku, memanfaatkan blog untuk menyimpan kepingan puzzle cerita hidupku. 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Sinizam.com yang diadakan oleh khoirun nizam.sekaligus menjadi cara mensyukuri penemuan harta karun blog pertamaku.


#odopbatch5 #Onedayonepost #tantangankelasnonfiksi #odop #lombablog
#30DWC #30DWCJilid12 #Squad3 #day27

Cintaku dari Desa

Semangat pagi Penikmat Kopi.

Bertemu dengan seseorang yang berasal dari desa tak membuat cintaku berkurang padanya. Dia yang telah berjuang untuk masa depan yang lebih baik dengan merantau jauh dari desanya. Dia berasal dari keluarga petani sederhana. Kalaupun dia menjadi seperti sekarang ini, tak lain karena perjuangan berpeluh dari kedua orang tuanya. 

Berulang kali dia cerita tentang asal muasalnya dari desa, aku hanya membayangkan bentangan sawah nan hijau dan gemericik air sungai di sekitarnya. Sepertinya akan menyenangkan ada di sana. 

Sampai datanglah waktu yang dinanti. Dia mengajakku ke desa, berkenalan dengan orang tuanya. Matahari belum menampakkan sinarnya kala itu. Kucoba membuka mata  meski berat demi bisa menikmati apa saja yang bisa kulihat. Ah, tak salah imajinasiku selama ini. Bentangan sawah hijau nan luas ada di depan mata. Meski saat itu lebih tepat dikatakan hitam karena masih gelap. 

Tapi bukan di sana rumah Si Cinta. Meninggalkan bentangan sawah, kami pun mulai memasuki sebuah jalan kecil dengan pepohonan yang rapat di kiri dan kanan. Lampu penerangan tak cukup membantuku untuk mencari jawaban di mana kami berada. Jarak dari satu rumah ke rumah berikutnya terpisahkan oleh bermacam-macam pepohonan. Sunyi dan sepi. 

Oh Tuhan, ini bukan desa. Sepertinya lebih tepat kalau aku menyebutnya hutan. 

Lamunanku buyar ketika mobil berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang dikelilingi pepohonan. Aku yang tak cukup baik mengenal nama-nama pohon hanya bisa mengidentifikasi pohon kelapa. 

Sambutan hangat dari calon mertua membuatku lupa pada pertentangan pikiran hutan atau desa. Usahaku untuk tampil sebaik mungkin di depan mereka membuat pikiranku sejenak beralih. Sampai matahari mulai menampakkan senyumnya, akhirnya aku kembali pada imajinasiku kala itu.

Tak ada bentangan sawah atau suara gemericik air sungai. Hanya pepohonan sepanjang mata memandang yang membuat matahari muncul malu-malu di sela-selanya. Aku menarik nafas panjang menikmati udara sejuk di samping rumah. Induk ayam dan anak-anaknya mulai berlarian mencari makan. Kambing-kambing pun mulai mengeluarkan suara menyambut pagi yang cerah. Dan inilah desa, tempat kelahiran Si Cinta.

#30DWC
#30DWCJilid12
#Squad3
#day26
#tema
#desa

Ungkapkan atau Kau Kehilangannya

Semangat pagi Penikmat Kopi.

 "Begitulah cinta deritanya tiada akhir."
Itu adalah perkataan Chu Pat Kay si siluman babi dalam film Kera Sakti. Memang urusan cinta tak pernah habis ceritanya. Aku baru membaca sebuah buku yang bercerita tentang cinta. Dan dadaku seketika sesak begitu selesai membacanya. 

Betapa tidak, dua sejoli yang sudah berjanji tuk setia sampai nanti akhirnya terpisah hanya karena masalah komunikasi. Tapi bukan serta merta kita bisa menjawab, "Bukan jodoh lah itu berarti." Habis sudah tulisanku kalau ditutup dengan kalimat pamungkas itu. 

Dalam buku ini diceritakan ada tokoh Hesty dan Tigor yang keduanya saling mencintai. Tapi orang tua Hesty yang berkedudukan tinggi tidak menyetujui hubungan mereka dikarenakan Tigor hanyalah anak dari pembantu mereka. Sekuat apapun Tigor berusaha untuk sukses, tidak membuat mereka menjadi satu strata. 

Berpuluh-puluh tahun mereka mengupayakan bersatunya cinta. Sempat terpisah jarak tak menghilangkan cinta keduanya. Sampai suatu saat Tigor menerima kiriman foto pernikahan Hesti. Hancur hatinya. Ditambah dengan melihat langsung Hesti ada di sebelah lelaki dalam foto ketika Tigor melayat ke rumah Hesti ketika bapaknya meninggal. Kala itu Tigor ingin bertanya langsung tapi dia mengurungkannya. Pergi jauh justru menjadi pilihan hidupnya. Pergi untuk tak mengenal lagi cinta.

Lalu apa yang terjadi?

Seumur hidup Hesti menantikan Tigor kembali, sementara itu Tigor memulai lembaran baru hidupnya dalam pelarian membalut luka hati.

Dan kau tahu wahai Penikmat Kopi, ternyata ini adalah kisah nyata. Bisakah kalian membayangkan betapa sesak dadaku ketika membaca kala itu?

Cerita panjang perjuangan cinta mereka sampai berakhir setragis itu berhasil mengoyak pertahanan air mataku. Akupun langsung teringat cerita di masa lalu. Ketika seorang lelaki dengan percaya diri datang ke rumah sang pujaan hati. Tiga tahun sang lelaki menanti, menjaga pujaannya dari kejauhan demi tekad menjaga diri dan menjaga hati. Lelaki itu tak pernah mengungkapkan rasa selama tiga tahun lamanya. Dia bertekad, ketika sang pujaan menyelesaikan studi maka itulah saat yang tepat baginya untuk mengungkapkan rasa dengan melamar langsung pada orang tuanya.

Lalu apa yang terjadi?

Dia pulang membawa luka di hati. Sang pujaan telah menerima pinangan lelaki lain karena merasa tidak mendapatkan jawaban atas penantiannya. Rupanya sang pujaan pun memiliki rasa yang sama, hanya tak punya kekuatan tuk mengungkapnnnya. Posisi perempuan hanya bisa menanti, lelakilah yang harus memberikan titik pasti. Dan semua itu hanya akan tersampaikan jika ada komunikasi. Jangan hanya disampaikan dari hati ke hati. Ungkapkan atau kau akan kehilangannya.

Alhasil dua sejoli ini hidup pada jalan masing-masing dengan menyimpan kecewa di hati. Cinta datang terlambat. 

#tantanganRCO
#tokohbuku
#30DWC
#30DWCJilid12
#Squad3
#Day25

Minggu, 15 April 2018

Pendataan Potensi Desa (PODES) 2018


Semangat pagi Penikmat Kopi.

Adakah yang merindukanku eh maksudnya tulisanku? Maafkan kalau dua hari kemarin tidak sempat menulis. Badan ini tidak bisa diajak kompromi. Mengikuti pelatihan petugas Pendataan Potensi Desa (Podes) 2018 yang jadwalnya sampai jam 21.00 membuatku langsung hanyut dalam buaian begitu bertemu bantal di kamar. 

Pendataan Potensi Desa itu apa sih? 

Ini adalah salah satu kegiatan yang diadakan oleh tempatku bekerja. Oh ya, aku belum kasih tahu kalian juga ya kalau aku kerja di Badan Pusat Statistik (BPS). Itu dia tempatku bekerja, instansi pusat non kementrian yang kerjanya ngumpulin data. Nah, Potensi Desa adalah salah satu jenis kegiatan pengumpulan data yang kami laksanakan.

Hasil pendataan Potensi Desa (Podes) adalah satu-satunya sumber data tematik berbasis wilayah yang mampu menggambarkan potensi yang dimiliki oleh suatu wilayah di tingkat desa, kecamatan, dan kabupaten/kota di seluruh Indonesia. 

Podes telah dilakukan sejak tahun 1980 dan dilaksanakan sebanyak tiga kali dalam kurun waktu 10 tahun, sebagai bagian dari siklus 10 tahunan kegiatan sensus yang dilaksanakan oleh BPS. Podes dilakukan 2 tahun sebelum pelaksanaan sensus untuk mendukung kelancaran dan kelengkapan data dasar kegiatan tersebut. Pada tahun berakhiran '1', pendataan Podes dilaksanakan untuk mendukung Sensus Pertanian yaitu identifikasi wilayah konsentrasi usaha pertanian menurut sektor dan subsektor. Pada tahun berakhiran '4', Podes dilaksanakan untuk mendukung Sensus Ekonomi dalam rangka mengindentifikasi usaha menurut sektor dan subsektor. Pada tahun berakhiran '8', Podes dilaksanakan untuk mendukung Sensus Penduduk yaitu untuk identifikasi wilayah pemukiman baru.

Podes 2018 dilaksanakan di seluruh wilayah administrasi pemerintahan setingkat desa meliputi desa, kelurahan, nagari, Unit Permukiman Transmigrsi (UPT), dan Satuan Permukiman Transmigrasi (SPT) yang masih dibina oleh kementrian terkait di seluruh Indonesia. Podes 2018 juga mencakup semua wilayah kecamatan, kabupaten/kota di seluruh Indonesia. 

Podes 2018 yang akan dilaksanakan pada 2 - 31 Mei 2018 ini memiliki beberapa tujuan. Utamanya adalah menyediakan data yang dapat mendukung perencanaan kegiatan Sensus Penduduk 2000. Selain itu Podes 2018 juga sebagai sarana untuk updating Master File Desa (MFD), pemutakhiran peta wilayah kerja statistik dan updating klasifikasi/tipologi desa. 

Kegiatan ini juga akan menghasilkan data tentang keberadaan dan perkembangan potensi yang dimiliki desa/kelurahan yang meliputi: sosial, ekonomi, sarana dan prasarana wilayah. Podes 2018 juga menyedikan data pokok bagi penyusunan wilayah kecil (small area statistics) dan menyediakan data bagi penghitungan indikator-indikator pembangunan/kemajuan desa. Selain itu juga menyediakan data bagi penyusunan berbagai analisis seperti identifikasi dan penentuan desa tertinggal, variabel konteks dalam PMT, identifikasi desa rawan bencana, dan identifikasi desa yang memiliki kesulitan geografis.

Nah, itu dia sekilas informasi mengenai Pendataan Potensi Desa (Podes) 2018 yang jadwal pelatihan petugasnya cukup padat dan membuatku tak sempat menulis setelahnya. Jangan ditiru ya, itu alasan yang seharusnya tidak boleh dituruti. Kalau kata bapak Isa Alamsyah, menjadi penulis itu seharusnya 'No Excuse'.

Sumber: Buku Pedoman Pencacah Desa/Kelurahan Podes 2018
#30DWC
#30DWCJilid12
#Squad3
#day23






Kamis, 12 April 2018

Ini Blog atau Novel?

 Semangat pagi Penikmat Kopi.

Ada kegiatan rutin selain menulis sekarang yang aku lakukan. Sejak ikut Reading Challenge ODOP (RCO) aku jadi terpaksa membaca setiap hari. Dulu aku tergolong pembaca akut. Bisa gak tidur sampai pagi hanya untuk melahap habis satu novel tebal. Suami sampai keheranan, apa serunya membaca buku yang isinya hanya deretan tulisan. Tapi itulah kalau cinta terkadang tak perlu punya alasan.

Nah, terkadang cinta pun bisa meredup kalau tidak dijaga. Seperti cintaku pada membaca. Membawa alibi kesibukan kantor dan kesibukan emak-emak, akhir-akhir ini semangat membacaku mulai menghilang. Tapi alhamdulillah RCO membawa semangatku membaca kembali pulang.

Malam ini aku membaca kumpulan cerpen Sepotong Hati yang Baru karya Tere Liye. Aku senyum-senyum sendiri membacanya. Penulis satu ini selalu berhasil memikat hatiku untuk jatuh cinta pada tulisan-tulisannya. Detail dan mampu membawa imajinasi pembaca untuk hanyut dalam cerita.

Aku pikir tulisan semacam itu hanya bisa disajikan oleh mereka yang sudah punya nama dan karya yang berjejer di deretan terdepan Gramedia. Ternyata aku salah. Aku bisa menemukan karya indah juga dalam sebuah blog bertajuk Celoteh Aksara. Serasa masih ada di dalam buku kumpulan cerpen Tere Liye ketika aku membaca satu per satu tulisan pada blog ini. 

Tulisan Dita, senior ODOP yang lebih muda sepuluh tahun dari aku ini ringan sebenarnya. Tapi pemilihan kata dan penyusunan kalimatnya membuat cerita-cerita ringan itu terkemas dalam cara penyajian yang indah. Seharusnya tulisan-tulisan ini tidak hanya tersaji dalam blog saja, tapi sudah layak untuk diterbitkan menjadi sebuah buku.

Semakin banyak aku membaca tulisannya aku jadi gemes sendiri. Dalam hati bertanya-tanya, "Ini blog atau novel?"

Bagaimana bisa dia menceritakan hal-hal ringan yang sepertinya terjadi dalam kehidupannya sehari-hari tapi dengan gaya bahasa yang penulis sekali. Bahasa sekelas novel yang sering aku baca. Sementara aku hanya bisa menulis dengan gaya bahasa buku diary. Hahaha...

Mungkin aku harus mengikuti saran yang dia sampaikan dalam tulisannya yang berjudul 'Ada Apa dengan RCO?'

Kalau tulisanmu menemui titik jenuh dan stuck alias writing block, coba tengok bacaanmu sudah berapa banyak?

(Dyah Yuukita)

#30DWC
#30DWCJilid12
#Squad3
#day21
#RCO
#tantanganbonus
#reviewblog

Minggu, 08 April 2018

Menulis, Sebuah Perjalanan



Semangat pagi Penikmat Kopi.

Sebenarnya sudah beberapa kali aku membuat coretan tentang perjalanan menulis. Tapi karena kali ini harus memenuhi tantangan dari grup non fiksi komunitas ODOP (One Day One Post) batch 5, jadi kucoba untuk kembali me-review perjalanan menulisku. Mungkin sekaligus bisa dijadikan bahan evaluasi untuk diri sendiri setelah beberapa kali mengikuti komunitas menulis. 

Coretan yang paling awal berjudul Tentang Menulis. Sebuah cerita tentang kerinduanku untuk menghidupkan kembali blog yang sudah lama mati suri. Tulisan ini sangat sederhana dan sangat tampak sekali sisi curhatnya. Saat itu aku sama sekali belum bergabung dengan komunitas menulis.

Tulisan kedua yang berjudul Mengapa Menulis?, aku buat untuk memenuhi tantangan komunitas Perempuan BPS Menulis. Struktur kalimat pada tulisan ini sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya meskipun tetap saja berisi tentang curahan hati. Di sini aku ceritakan titik balik untuk kembali berjuang dan semangat belajar menulis dengan lebih baik lagi. 

Semangat untuk kembali aktif menulis aku wujudkan bukan hanya dengan menghidupkan blog yang sudah lama mati suri. Aku bergabung dengan beberapa komunitas menulis dengan harapan bisa terus menghidupkan semangat dan memperbaiki kualitas tulisanku. Salah satu komunitas atau challenge yang aku ikuti adalah 30 Hari Bercerita. Challenge ini aku ikuti pada awal tahun 2018 dengan tujuan memaksa aku untuk konsisten menulis setiap hari. 

Berikutnya aku bergabung dengan komunitas ODOP (One Day One Post) batch 5. Komunitas ini adalah tempat belajar terbaik buatku untuk menulis. Aku kagum dengan senior-senior yang ada dalam komunitas ini. Banyak ilmu tapi selalu rendah hati dan tidak pernah pelit untuk berbagi. Meski belum pernah bertemu langsung dengan semua anggota komunitas, tapi aku merasa sangat nyaman belajar bersama mereka. Banyak sekali ilmu kepenulisan yang aku dapatkan dari komunitas yang dibuat oleh Bang Syaiha ini. Sembilan minggu kita dilatih untuk menulis secara konsisten setiap hari. Diakhiri dengan tantangan membuat cerita bersambung yang menentukan kelulusan kami. Sekarang, aku sudah berada pada tahap selanjutnya yaitu belajar pada kelas non fiksi dan juga mengikuti Reading Challenge ODOP (RCO). Alhamdulillah, masih tetap nyaman untuk belajar seperti pada tahap sebelumnya. Apalagi dengan kehadiran saudara-saudaraku Alumnus Merkurius yang sampai sekarang tak pernah absen untuk menyuntikkan semangat di kala aku mulai kambuh malasnya.

Aku juga bergabung dengan komunitas ODOP99days. Ini adalah salah satu anak komunitas dari Institut Ibu Profesional yang khusus bergerak di bidang kepenulisan. Sayangnya aku masih kurang menyerap ilmu dari komunitas ini. Aku hanya rutin mengumpulkan link tulisanku selama seminggu setiap hari Senin. Dalam grup whatsapp komunitas ini diadakan agenda Rabu baca buku, dimana kita bisa berbagi tentang buku apa yang telah kita baca seminggu terakhir. Setiap Jum'at diadakan kulwap dengan pemateri orang-orang yang ahli di bidang kepenulisan. Tapi sayangnya aku belum terlalu fokus pada grup ini sehingga belum banyak ilmu yang dapat aku serap. 

Komunitas berikutnya yang aku ikuti adalah Perempuan BPS Menulis. Diinisiasi oleh salah seorang teman sejawat yang sudah malang melintang di bidang kepenulisan. Komunitas ini didirikan untuk meningkatkan semangat menulis perempuan BPS (Badan Pusat Statistik). Lagi-lagi aku tidak terlalu fokus pada grup ini. Padahal sudah banyak teman dalam komunitas ini yang berhasil tembus media lokal maupun nasional dalam menulis opini, membunyikan data-data yang kita hasilkan. Sayangnya semangat teman-teman dalam komunitas ini belum berhasil menyentuh hatiku untuk ikut tertular. Meski begitu ada secuil tekad dalam hati bahwa suatu hari nanti aku akan membunyikan data yang sudah kami kumpulkan dengan sepenuh jiwa agar bisa dipahami oleh masyarakat. Tapi untuk saat ini aku ingin membersihkan hati dulu, memastikan saat aku menulis nanti maka tulisan itu dibuat dengan hati bukan berlandaskan obsesi untuk dikenal apalagi untuk dihargai dengan sebuah pujian oleh atasan. 

Rumbel Literasi Media Ibu Profeisonal Semarang juga merupakan salah satu tempatku belajar menulis. Baru dimulai di awal tahun, rumbel ini masih menitikberatkan pada materi bloging. Alhamdulillah aku mendapatkan banyak ilmu untuk mempercantik blog dari Mbak Marita sebagai koordinator dalam rumbel ini. Setiap bulan kami juga diberi tantangan untuk menulis dengan tema tertentu. Alhamdulillah aku pernah mendapatkan hadiah beberapa buku sebagai apresiasi tulisan terbaik pada bulan Januari 2018.

Satu lagi komunitas yang aku ikuti adalah Penulis Buku Cerita Anak. Komunitas ini memiliki langkah yang cepat. Tanpa banyak kata, kami langsung diminta untuk membuat satu cerita dengan tema dan jangka waktu yang sudah ditentukan. Alhamdulillah komunitas ini sudah berhasil melahirkan satu buku antologi pertama yang berjudul Superhero Jaman Now. Buku ini masih dalam proses produksi. Dan saat ini kami sedang menyusun buku antologi kedua yang bertema tentang bullying

Terakhir, aku bergabung dengan komunitas 30 Days Challenge Writing. Sebenarnya komunitas ini mirip dengan ODOP yang mewajibkan anggotanya untuk menulis setiap hari. Tapi entah mengapa aku merasa suasananya lebih tegang. Dan ternyata berpengaruh pada semangat menulisku. Jangan pernah ditiru ya.

Nah, itu dia perjalanan menulis yang sudah dan sedang aku lalui. Perjalanan menulis yang kulalui bersama beberapa komunitas yang kuikuti. Sebenarnya masih ada lagi komunitas yang aku ikuti. Tapi karena tidak terlalu dapat menyerap ilmu di sana sepertinya tidak perlu diceritakan. Mungkin yang dapat aku evaluasi dari perjalanan panjang ini adalah temukan komunitas yang paling nyaman, fokuslah belajar di sana. Bukan banyaknya komunitas, tapi seberapa baik dan fokus kamu belajar untuk menjadi penulis yang lebih baik dan produktif. 

#30DWC
#30DWCJilid12
#Squad3
#Day18
#ODOPbatch5
#KelasNonFiksi
#tantanganpekan1
#perjalananmenulis

Mengenali Diri Sendiri



Semangat pagi Penikmat Kopi.

Siapa orang yang paling mengenali diri kita?

Pasti selama ini jawabannya adalah diri kita sendiri. Aku pun memiliki jawaban yang sama. Selama ini aku merasa sudah sangat mengenali diri sendiri. Paling tahu siapa aku, watakku gimana, kebutuhanku apa, perasaanku bagaimana. 

Tapi ternyata apa yang aku tahu tentang diri ini masih secuil saja. Dalam suatu acara belajar ilmu pola pengasuhan, aku diminta untuk mengenali temperamenku sendiri. Di sana dijelaskan bahwa setiap orang dilahirkan dengan temperamen yang unik. Temperamen ini akan mempengaruhi perilaku dan cara seseorang bereaksi terhadap sekelilingnya. Keunikan temperamen ini tidak bisa diubah tapi dapat dikelola dan diarahkan.

Ada 9 jenis kontinum temperamen, antara lain:
  • Aktivitas, yaitu jumlah tenaga yang dikeluarkan oleh tubuh. Ada orang yang relatif banyak bergerak dan ada juga yang cenderung lebih tenang.
  • Distraksi, yaitu bagaimana seseorang dengan mudah dapat teralihkan perhatiannya karena sesuatu hal yang tiba-tiba terjadi. Biasanya hal ini akan tampak pada gaya belajar atau bekerja. Apakah kita bisa tetap konsentrasi pada suasana ramai atau kita baru bisa konsentrasi dalam kondisi yang sunyi?
  • Intensitas atau respons emosi, yaitu bagaimana seseorang bereaksi terhadap situasi yang positif dan negatif. Apakah kita termasuk orang yang bisa mengendalikan emosi atau malah mudah berubah naik turun emosinya?
  • Keteraturan, yaitu ketepatan menjalankan rutinitas sehari-hari. Mulai dari bangun tidur, makan, mandi dan sebagainya. Ada orang yang hidupnya terbiasa untuk terpola, ada juga yang tidak teratur kegiatan setiap harinya.
  • Ambang sensori, yaitu batas toleransi seseorang oleh stimulus suara, temperatur, tekstur dan rasa. Ada orang yang bisa tidur dimana saja, ada juga orang yang harus tidur di kasur dengan sprei yang halus atau kamar yang dingin. 
  • Pendekatan atau Penolakan, yaitu bagaimana reaksi seseorang terhadap sesuatu yang baru. Apakah kita senang bertemu dengan kenalan baru?
  • Adaptif, yaitu bagaimana seseorang dengan cepat atau lambat beradaptasi terhadap perubahan atau berhadapan dengan respons negatif. Ada orang yang dengan cepat beradaptasi dengan kegiatan baru, ada yang membutuhkan waktu lebih lama untuk berbaur di dalamnya.
  • Ketekunan, yaitu seberapa lama seseorang dapat bertahan menghadapi situasi tanpa menyerah. Jika kita mengalami suatu kesulitan dalam pekerjaan, apakah kita akan mudah beralih pada aktivitas lain atau tetap fokus untuk menyelesaikan kesulitan itu?
  • Suasana hati, yaitu bagaimana seseorang menunjukkan kondisi hatinya yang positif dan negatif. Apakah kita cenderung bersikap selalu kaku atau ceria pada setiap kesempatan?
Dari 9 kontinum temperamen itu saja ternyata butuh waktu agak lama untuk mengenali diriku sendiri. Aku tidak bisa langsung menjawab pilihan dari setiap kontinum temperamen tersebut. Butuh perenungan mendalam. Aku pelajari satu per satu makna dari semua kontinum temperamen itu sampai akhirnya bisa menentukan aku tergolong memiliki temperamen yang seperti apa. 

Ternyata aku adalah orang yang cenderung banyak bergerak dan mudah teralihkan fokusnya jika suasana terlalu ramai. Dilihat dari intensitas atau respons emosi, aku adalah orang yang emosinya mudah naik turun. Dan aku adalah orang yang cenderung tidak teratur tapi masih memiliki toleransi cukup baik terhadap stimulus suara, temperatur, tekstur maupun rasa. Aku juga merupakan orang mudah menerima kenalan baru maupun kegiatan baru karena tidak butuh lama untuk beradapatasi. Tapi aku adalah orang yang agak mudah putus asa dalam menghadapi kesulitan meskipun di tengan keputus asaan itu akan tetap terlihat ceria di mata orang lain. 

Mengenali temperamen ini sangatlah penting karena akan berpengaruh terhadap kenyamanan orang lain ketika berinteraksi dengan kita. Setelah mengetahui karakter temperamen, seharusnya kita bisa mulai belajar untuk mengelola temperamen yang negatif.

Kadang kita disibukkan untuk menilai orang lain dibanding menilai diri sendiri. Padahal dari sisi temperamen saja, kita akan tahu jika masih banyak yang harus diperbaiki dari diri ini. Dan proses mengenali diri sendiri tidak hanya berhenti pada memahami temperamen saja. Kita masih harus mengenali emosi dominan dan juga bakat yang ada dalam diri kita. 

Jika kita bisa mengenali diri dengan baik niscaya kita akan selalu berusaha untuk memperbaiki hal-hal tidak baik yang ada dalam diri kita. Selain itu mengenali diri sendiri juga penting agar kita bisa menjawab pertanyaan, "Apa misi penciptaan kita ke dunia ini?"

#30DWC
#30DWCJilid12
#Squad3
#Day17
#tugaspekan1ODOP
#ODOPbatch5
#NonFiksi

Jumat, 06 April 2018

Apalah Arti Sahabat



Semangat pagi Penikmat Kopi. 

Aku adalah orang yang gak terlalu percaya makna persahabatan. Gak perlu kaget begitu bacanya. Aneh sedikit, tapi rasanya ini masih wajar kok. Meski mungkin aku hanya 1 diantara 1000 orang yang gak terlalu percaya makna dari persahabatan.

Sahabat buatku adalah teman paling dekat, paling memahami kita begitupun sebaliknya. Sahabat itu ibarat kita luka, dia lah P3K nya. Sahabat itu kalau kita kehujanan dialah yang pertama kali berbagi payung dengan kita. Sahabat itu tertawa dan menangis bersama. Sahabat itu brankas dari semua rahasia dan aib kita. Sahabat itu orang yang paling hafal dengan nada dasar kentut kita. 

Ekspektasi terlalu tinggi akan makna sahabat membuatku malah akhirnya skeptis akan ikatan paling erat dalam hubungan pertemanan ini. Aku terlalu berharap banyak ketika sudah mendeklarasikan seseorang menjadi sahabat. Aku mencurahkan seluruh energi untuk sahabat tapi aku gak mendapatkan sebaliknya. 

Sejak SD hubunganku dengan teman sekolah hanya sebatas belajar bersama. Meski sekarang setiap tahun berkumpul untuk reuni, aku belum bisa menyebutnya sahabat. Bagaimana tidak, kabar mereka saja aku tak tahu. Pun sebaliknya, mereka juga tak tahu bagaimana kabarku. Yang seperti itu bukan sahabat bagiku. 

Sampai di masa kuliah aku dekat dengan beberapa teman. Kita saling mendukung, saling berbagi cerita dan juga berbagi nasi warteg kala uang kiriman dari orang tua mulai menipis. Tapi ketika dia ingin menangis dan bukan kita orang pertama yang dicari, aku sebut itu bukan sahabat. 

Di masa kerja juga sama. Delapan jam dalam sehari, selama lima hari dalam seminggu bertemu tidak membuat kita menjadi sahabat. Apalah arti sahabat kalau kita bercerita sesuatu pada si A, esoknya akan sampai pada si B, hingga si T. Bukan itu arti sahabat. Bukan.

Menurunkan ekspektasiku tentang arti persahabatan itu bukan perkara mudah. Aku suka mendengar curhat alias curahan hati teman-teman. Membantu mencari solusi masalah, atau sekedar meringankan beban di hati mereka adalah hal yang sangat menyenangkan buatku. Tapi tidak serta merta bisa disebut aku sahabatnya. Tidak bisa. 

Ekspektasi yang tinggi ditambah dengan kekecewaan yang beberapa kali muncul dalam suatu hubungan dekat pertemanan membuatku semakin bertanya, apalah arti sahabat. 

Kadang aku iri dengan teman-temanku yang masih awet akrab dengan teman-teman SD, SMP, SMA ataupun kuliahnnya. Sedangkan aku setiap hari sudah disibukkan dengan keluarga. Pernah seorang teman berkata, "Kalau kita sudah berkeluarga memang gak bakal lagi sempat berpikir tentang persahabatan."

Perkataan yang cukup menghibur, tapi tetap tidak bisa menjawab pertanyaanku tentang arti sahabat.

#30DWC
#30DWCJilid12
#Squad3
#Day16
#Sahabat

Kamis, 05 April 2018

Di balik Tema Biola


Semangat pagi Penikmat Kopi.

Sebuah tema yang cukup mematikan para fighter penulis di Squad 3 grup 30 Days Writing Challenge (#30DWC) Jlid 12. Sampai malam begini, sebagian besar fighter masih berkutat mencari ide 'mengolah' biola. 

Ada yang mencari filosofi biola, ada juga yang menyusun segala kemungkinan cerita berkaitan dengan biola. Bahkan ada yang melontarkan ide tentang kisah cinta dua pemain biola. Tapi memang menuangkan ide untuk menyusun kata bertemakan biola ini tidak mudah. 

Aku yang seharian ini kerjanya duduk manis menjaga lapak pameran, mencoba memanfaatkan waktu untuk membaca segala hal tentang biola. Aku jadi tahu kalau biola itu hanya punya 4 senar. Aku baru tahu kalau nada paling rendah dari biola adalah G. Aku juga baru tahu kalau ada alat musik viola dan cello yang masih termasuk dalam keluarga biola. 

Tantangan menulis dengan tema biola ini ternyata ada hikmahnya juga ya. Aku jadi terpaksa membaca all bout violin. Padahal sebelumnya yang kutahu tentang biola hanya sebuah alat musik gesek. Alat musik yang alunan merdunya mampu menghipnotis keheningan menjadi suasana yang manis dan romantis. 

Biola modern pertama kali bermula di Italia Utara pada abad ke-16 terutama di kota pelabuhan Venice dan Genoa. Nah, ternyata biola bermula di kota yang juga terkenal akan suasana romantisnya, Venice. Berarti si biola ini benar-benar sempurna ya aura romantisnya.

Bermula dari mencari referensi tulisan bertemakan biola, aku jadi gak sengaja juga tahu kalau biola modern tertua dengan 4 senar yang pernah dicatat dibuat oleh Andrea Amati tahun 1555. Sedangkan sebelumnya juga ada alat musik mirip biola yang hanya memiliki 3 senar. Alat musik ini bernama violetta

Aku pun mendapatkan hasil pencarian berupa satu karya berjudul 'Biola Tak Berdawai' yang menceritakan ketangguhan seorang Renjani dalam menghadapi ujian hidup. Resensi-resensi tentang karya ini mengingatkanku untuk tidak banyak mengeluhkan keadaan. Kita harus selalu kuat menghadapi ombak kehidupan yang siap datang kapan saja untuk menerjang.

Derita mencari ide untuk menulis tentang biola ini awalnya memang menyiksa. Seperti memeras santan kelapa, rasanya apa yang kupikirkan sudah sampai perasan tetes terakhir. Mentok. Habis. Tak ada ide sama sekali. 

Tapi ternyata disitulah letak perjuangan seorang penulis. Salah satu cara yang bisa ditempuh kalau kehabisan ide adalah dengan membaca. Dan ternyata banyak ilmu baru yang kudapatkan tentang biola. Meski sayangnya tidak kutemukan cara cepat membuat badan ini langsing dan indah seperti bentuk biola.

Dan jurus terakhir yang kupakai di balik tema biola ini adalah, 'Gak punya ide itu adalah ide untuk menulis'.

#30DWC
#30DWCJilid12
#Squad3
#Day15
#Biola

Rabu, 04 April 2018

Ikhlaskan Saja


Semangat pagi,

Selamat datang di halaman catatan kecil si penikmat kopi. Sebuah catatan ringan yang bisa dibaca sambil menikmati secangkir kopi yang wangi. 

Tulisan pertama kali ini mungkin agak sedikit melankolis karena memang ungkapan tulus dari dalam hati. Jangan terkejut kalau nanti akan banyak menemukan catatan kecil curahan hati dari si penikmat kopi yang mengaku sebagai penulis amatir ini.

Ceritanya, akhir-akhir ini aku sedang dilanda rasa tak tenang di hati. Terlalu lama berada pada zona nyaman membuatku terkejut ketika dihadapkan pada kejadian-kejadian di luar kendali. Sesuatu yang tidak diharapkan tiba-tiba saja terjadi. Suatu rencana yang sudah ditata ternyata berjalan di luar ekspektasi. Berat menerimanya tapi apalah daya, nasib berkata begini. 

Ikhlaskan saja.

Mungkin itu bisa menjadi kalimat pamungkas untuk menenangkan hati. Mengikhlaskan itu artinya merelakan, memberikan atau menyerahkan dengan tulus hati. Entah mengikhlaskan pada apa atau siapa, tapi yang kuyakin kali ini aku harus ikhlas menerima semua. Agar kakiku lebih ringan untuk menapaki hari demi hari. 

Ikhlaskan saja. 

Bukankah sehelai daun yang jatuh dari pohonnya pun membawa misi dalam dunia ini? Apalagi kejadian-kejadian yang datang tanpa permisi. Semua memiliki makna. Semua membawa pesan yang harus dipahami. 

Bukankah semua hal terjadi dengan arti? Pun hal ini yang tiba-tiba hadir di luar kendali bisa diyakini akan membuat kita mawas diri di kemudian hari. Selalu ada hikmah di balik segala hal, baik yang membahagiakan maupun yang menggoreskan kecewa di hati.

Sudah, ikhlaskan saja.

Tutup lembaran lama dan mulailah tersenyum membuka halaman pertama lembaran baru. Tersenyumlah dan berkata pada diri sendiri, 'Aku bisa!'. 

Jangan terlalu lama menengok ke belakang, cukup sesekali saja. Terlalu sering menengok ke belakang akan membuatmu lupa cara melangkah ke depan. Cukup sesekali saja. 

Maju dan melangkahlah, yakinlah hal-hal yang terjadi di luar kendali itu juga membawa kebaikan bagi diri. Tinggal bagaimana cara kita menerima dan menyikapi.

Sudah, ikhlaskan saja.

Pekalongan, 4 April 2018
Racauan malam si penikmat kopi.
#30DWC
#30DWCJilid12
#Squad3
#Day14
#Ikhlas