Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Juni 2018

Siang dan Malam

Siang bertanya padaku,
Tidakkah kau sadar telah membawa gelap
Tidakkah kau tahu gulita selalu ada bersamamu
Apa rasanya menjadi malam yang hanya hitam

Aku pun bertanya pada siang
Tidakkah kau sadar telah membawa panasa menyengat
Tidakkah kau tahu tak selamanya mereka butuh terangmu
Apa jadinya sepanjang hari dipenuhi siang yang terang

Siang tetap merasa jumawa akan dirinya
Semua orang bekerja di bawah sinarnya
Semua orang bersemangat dalam putaran waktu di masanya
Semua orang senang berjumpa dengan siang

Tapi siang tak tahu dia
Orang-orang itu butuh ketenangan
Redup yang membawa mereka dalam hening
Hening membawa mereka dalam istirahat melepas lelahnya bertemu siang

Malam pun dirindukan
Malam tak hanya bercerita tentang hitam nan pekat
Malam saatnya orang merebahkan badan dari kesibukan seharian
Malam saatnya orang bercengkerama dengan yang tersayang

Siang termangu mendengar rentetan penjelasanku
Menunduk dia malu-malu
Karna tak selamanya yang terang itu membawa riang
Terang itu kalau lama akan menyilaukan

Siang pun tersenyum berjabat erat pada malam
Siang dan malam
Dua masa yang talah digariskan
Ada gelap dan ada terang, ada tujuan masing-masing diciptakan mereka oleh Tuhan

#30DWCJilid13 #Squad10 #Day21 #TemaMalam

This entry was posted in

Selasa, 05 Juni 2018

Tak Perlu Google Translate

Kita tidak satu bahasa, tapi kurasa tak perlu google translate tuk pahami bahasamu
Bahasamu adalah perilaku
Bahasaku adalah tutur kataku
Kita berbeda dan kita saling tahu itu

Meski terkadang aku kecewa karena berharap ada lembut aksaramu menenangkanku
Meski terkadang aku kehilangan hadirmu hanya karena tak ada sepatah kata darimu
Aku lupa, aku lupa untuk menerjemahkan perilakumu sebagai wujud cinta untukku
Aku lupa, aku lupa dalam diammu ada gunung kasih sayang bagiku

Kau menyayangiku dengan kerja kerasmu
Kau mencintaiku dengan rasa khawatir yang sembunyikan di balik tenangmu
Seharusnya aku tak perlu google translate untuk menerjemahkan semua itu
Karena bahasamu memang tak sama dengan bahasaku

Dear ayah,
Lama aku berusaha untuk menyadari besarnya cintamu untukku
Lama aku belajar untuk menerjemahkan bahasa kasih sayangmu
Lama aku merasa sendiri tanpa belai kasihmu
Lama aku tak berhasil memahami perhatian dalam sunyimu

Dear ayah, 
Maafkan aku yang terlalu egois tuk sadari betapa besar kerja kerasmu untukku
Maafkan aku yang tak perna akui semua bentuk perilaku itu sebagai sebongkah cinta untuk anakmu

#30DWCJilid13 #Squad10 #Day20 #TemaGoogleTranslate
This entry was posted in

Senin, 04 Juni 2018

Sebait Puisi Untukmu

Hai kamu,
Diam-diam ternyata aku kehilanganmu
Diam-diam ternyata aku merindumu
Diam-diam ternyata aku ingin hadirmu
Diam-diam ternyata aku pun suka mengamati dari jauh

Hai kamu, 
Aku tak pandai membuat sajak indah 
Aku tak pandai merangkai aksara
Aku tak lihai memilih diksi untuk menyusun puisi
Karena aku bukanlah ahli sastra ataupun penyair masyhur di kota ini

Tak perlu kata indah yang tersusun rapi
Tak perlu diksi tepat agar kalimat indah tersaji
Yang kuperlukan hanya satu, jangan kau menghilang lagi

Entah angin apa yang buatku beranikan diri mengirimkan puisi ini ke radio yang biasa dipakai Tania untuk kirim salam padaku. Bahkan aku menyebutkan nama lengkapnya. Ya, aku katakan kalau puisi ini dariku untuk Tania. Aku tak berpikir lagi bagaimana reaksi Marita jika dia tahu. 

Marita, aku lelah pacaran sama dia. Dia memang cantik, kalem, anggun dan aku bangga bisa jadian sama cewek yang jadi idola banyak cowok di sekolah. Tapi ternyata yang aku rasakan hanya kebanggaan saja. Malah aku lelah harus antar jemput dia sekolah setiap hari, antar jemput les, dan menuruti semua kemauannya. Tak ada getaran apapun yang kurasakan ketika bersama Marita. 

Aku tak bisa senyum-senyum sendiri seperti saat aku menyadari ada sepasang mata yang melihatku bermain basket dari jendela kelas lantai dua. Aku gak kangen saat Marita gak menelponku seharian seperti aku merindukan Tania yang menelponku hanya untuk mendengar satu kata dariku, 'halo'.

Tania, penggemar rahasiaku yang diam-diam telah berhasil mencuri hatiku. Semoga kamu mendengarkan penyiar radio kesukaan kita membacakan puisi ini untukmu. Kamu membuat cowok cuek sepertiku jadi sok mellow dan sok romantis begini. Sebait puisi ini begitu saja mengalir dari dalam hatiku. Susunan aksara apa adanya, sebuah puisi yang tersaji tanpa memikirkan pilihan diksi. Buatmu, Tania. 

(Cerita ini adalah lanjutan dari Dekat Tapi Jauh)


#30DWCJilid13 #Squad10 #Day19 #TemaDiksi

Kamis, 31 Mei 2018

Mengenangmu

Pagi dan kamu
Kucoba sapa pagi dengan senyuman
Serap energi tuk semangati hari
Kucari gelora yang dulu kudapat darimu

Perlahan kutelusuri jejak yang pernah ada
Menyesap udara penuh masuk ke rongga dada
Pejamkan mata rasakan hadirmu yang pernah singgah
Langit bagai tersenyum pada diriku yang sepi mendera

Bukan satu dua
Tapi cukup lama
Kau goreskam cerita dalam lembar yang sedia
Senyum, bahagia, marah ataupun kecewa

Berat tuk bisa kulupa begitu saja
Tak mudah tuk melepasmu pergi entah kemana
Tak kuasa
Tapi ku harus terima

Mengenangmu
Yakikan diri kau telah jauh
Meski hati masih rasa yang tak tentu
Harapku kau kembali seperti dulu

Kulanjutkan  langkah menelusuri cerita
Sepanjang jalan yang menjadi saksi kita
Membahas apa saja meski tak jelas ujungnya
Tapi slalu ditutup dengan senyum mempesona

Mengenangmu
Hanya itu yang kumampu
Kala aku tlah kehilanganmu
Saat kau tlah jauh

Jika mengenangmu menambah energiku
Biarkanlah kulakukan itu

Jika mengenangmu mengembangkan senyumku
Izinkanku tuk kenangmu

Jika mengenangmu tenangkan hatiku
Ku akan telusuri jejakmu dalam setiap potongan hariku




#30DWC #30DWCJilid13 #Squad10 #Day15
This entry was posted in

Rabu, 30 Mei 2018

Rindukah Kau Padaku

Jauh dan berjarak, itulah kini aku dan kamu
Ritme pagiku menjadi tak sama sejak saat itu
Ada yang hilang dari hariku
Rindukah kau padaku

Jauh dan berjarak, itulah kin aku dan kamu
Semangatku jalani hidup tak sebesar dulu
Ada yang kurang dari hariku
Rindukah kau padaku

Jauh dan berjarak, itulah kini aku dan kamu
Tak tahu pada siapa celoteh ini kan mengadu
Ada yang hilang dari hariku
Rindukah kau padaku

Jauh dan berjarak, itulah kini aku dan kamu
Pada siapa lagi kusandarkan lelahku
Ada yang kurang dari hariku
Rindukah kau padaku

Jauh dan berjarak, itulah kini aku dan kamu
Tak ada langkah yang berjalan beriring di sampingku
Ada yang hilang dari hariku
Rindukah kau padaku

Jauh dan berjarak, itulah kini aku dan kamu
Hanya bayangan kosong yang kutatap dari jejakmu
Ada yang kurang dari hariku
Rindukah kau padaku

Jauh dan berjarak, itulah kini aku dan kamu
Tak ada lagi yang mengganti sendu dengan senyum pada wajahku
Ada yang hilang dari hariku
Rindukah kau padaku

Jauh dan berjarak, itulah kini aku dan kamu
Tak ada lagi yang tenangkan gundahku hapuskan laraku
Ada yang kurang dari hariku
Rindukah kau padaku


#30DWC #30DWCJilid13 #Squad10 #Day14
This entry was posted in

Selasa, 29 Mei 2018

Itu Dulu

Senyummu sambut hadirku kala itu
Tak ada kata tapi tiba-tiba kita bagaikan satu
Selalu bersama kemanapun langkah tertuju
Selalu bersama apapun masalah yang sedang ditemu

Aku tak pernah meminta tapi kau selalu ada
Setiap cerita mengalir ringan kata demi kata
Kau selalu mendengar celotehku dengan seksama
Tak terlewat tak terloncat, terekam semuanya

Ringan, berat, berdua kita jalani
Tawa, tangis, berdua kita lalui
Mudah, sulit berdua kita temui
Mulus, terjal berdua kita lewati

Kamu,
Mengajarkanku berpikir sederhana
Memaknai setiap frasa dengan lebih mudah
Menjalani setiap langkah dengan lebih indah
Menyederhanakan semua masalah yang ada

Tapi itu dulu,
Kini jarak memisahkan kita
Kau tak lagi di dekatku tuk hadapi dunia
Kau tak lagi dampingiku tuk jalani semua
Bersama

Tapi itu dulu,
Kini sepi menderaku
Kini sepi menjeratku
Kini sepi membayangiku
Kini sepi menggontaikan langkahku

Tapi itu dulu,
Kini aku rindu senyummu
Kini aku rindu hadirmu dengar celotehku
Kini aku rindu dirimu yang menuruti rengekanku
Kini aku rindu dirimu yang mengusap lembut kepalaku

Tapi itu dulu,
Kini aku sendiri
Hampa, tak ada kau di sini
Sepi hariku sejak kau pergi
Pada siapa lagi ku kan berbagi

Kamu dan aku,
Itu dulu.



#30DWC #30DWCJilid13 #Squad10 #Day13
This entry was posted in

Minggu, 27 Mei 2018

Aku Merindu

Dalam hujan aku kelu tuk berkata rindu
Rindu tak bernama pada siapa dia tertuju
Hanya tak genap rasa dalam kalbu
Kosong, hampa, dan mengharu


Aku terjebak dalam sebuah bayang
Tanpa kutahu itu kini atau masa yang patut dikenang
Dia muncul tak utuh bagai tertutup ilalang
Dalam mimpi yang tertimpa surya lalu menghilang


Sering berat kubuka dua mata
Karna dalam gelap ada hadirnya
Dia yang tak ku tahu siapa
Mungkin sosok dalam imaji yang selama ini kudamba


Sepi aku dalam keramaian
Seperti berharap datang dia yang kunantikan
Pun dia ternyata hanya sebuah angan
Sosok sempurna yang tak bisa jelas kugambarkan


Kemana diri ini mencari sebuah jawaban
Akan dirinya yang menyapa jauh bak di balik awan
Kala siang kumerasa terabaikan
Dalam malam dia hadir sehangat pelukan



Menghiburku dalam pekatnya sunyi
Menyapaku dari hati yang tlah berpenghuni
Menjebakku ke dalam cawan elegi
Rangkaian cerita rindu yang penuh misteri


#30DWC #30DWCJilid13 #Squad10 #Day11 #temapuisi
This entry was posted in