Jumat, 27 April 2018

Resensi Buku: Critical Eleven


Semangat pagi Penikmat Kopi.
Rasanya seperti naik roller coaster. Terlalu sering menghela nafas panjang. Bahkan terkadang merasa sesak di dada. Hanya saja belum sampai meneteskan air mata.
Meski mungkin hidup memang seperti ini. Kadang bahagia, kadang penuh dengan kejutan indah, terkadang juga ada hal-hal yang tak pernah kita inginkan itu ada.
Critical Eleven, sebuah buku dan pelajaran berharga.
(Tulisanku di facebook, 26 Maret 2017)
Judul: Critical Eleven

Penulis: Ika Natassa

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Kota Penerbitan: Jakarta

Tahun Terbit: 2015

Cetakan: Ketujuhbelas, Januari 2017

Ketebalan: 344 halaman

ISBN: 978-602-03-1892-9

Berawal dari caption teman di instagramnya tentang buku ini, membuatku penasaran. Langsung saja deh aku masukkan dalam wishing list belanja buku. Lucunya pas jadwal belanja, aku salah beli buku. Aku beli buku lain yang sampulnya sama-sama berwarna biru, gara-gara aku lupa apa judulnya. Alhasil buku ini baru aku beli di bulan berikutnya. 

Critical Eleven adalah sebuah cerita pendek sebelum berkembang menjadi sebuah novel yang keren. Dalam kumpulan cerpen berjudul Autumn Once More, Critical Eleven menceritakan tentang sosok wanita dalam sebuah penerbangan sedang mengenang awal pertemuannya dengan sosok lelaki yang menjadi kekasihnya. Tapi pertemuan yang manis antara keduanya telah menjadi sebuah masa lalu yang membuat mereka kembali asing satu sama lainnya. 

Cerita pendek itu dikembangkan kemudian menjadi sebuah novel yang luar biasa. Tanya Baskoro (Anya) dan Aldebaran Risjad (Ale) adalah dua tokoh utama dalam novel ini. Keduanya bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sidney. Sebelas menit paling kritis dalam pertemuan itu rupanya membawa kesan tersendiri bagi mereka. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan  delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya. 

Setelah melalui proses meyakinkan diri yang panjang, akhirnya mereka pun menikah. Profesi Ale sebagai petroleum engineer yang hanya memiliki waktu 5/5, yaitu lima minggu di rig dan lima minggu libur membuat mereka harus hidup berjauhan. Tapi, meski tak selalu bersama, hubungan mereka tetap harmonis. 

Hingga terjadi suatu tragedi memilukan yang menjadi mimpi buruk bagi pasangan suami istri manapun. Sebuah tragedi yang membuat mereka kembali menjadi orang asing meski tinggal bersama. Jarak membentang di antara keduanya meski ada di bawah atap yang sama. Tragedi ini membuat pembaca bertanya-tanya apakah mereka akan dapat mempertahankan pernikahan atau justru mengakhirinya?

Membaca halaman-halaman awal membuatku merasa buku ini hanyalah novel romance biasa. Tapi begitu sampai pada halaman-halaman berikutnya, hati ini serasa naik roller coaster. Ika Natassa berhasil membawa perasaan pembaca larut ke dalam cerita. 

Karakter yang kuat dari tokoh Anya dan Ale ditambah alur cerita maju mundur sukses membuat emosiku jungkir balik. Kadang tersenyum tipis, tapi tiba-tiba aku harus menghela nafas panjang karena ada bagian cerita yang menyesakkan dada. 

Ika Natassa memang keren dalam merajut aksara. Pantaslah jika Critical Eleven disunting oleh banyak rumah produksi untuk dijadikan film. Meski aku sempat ragu apakah filmnya akan menggambarkan isi cerita dengan baik atau justru mengecewakan seperti film-film lain yang jauh dari isi novelnya. 

Dan ternyata film Critical Eleven sukses memecahkan rekor dalam kamusku yang selama ini selalu berpendapat bahwa novel yang dibuat film tidak akan sukses. Karena apa yang diceritakan dalam film biasanya tidak sebagus imajinasi kita ketika membaca novelnya. 

Film dan novel Critical Eleven dua-duanya luar biasa. Menghadirkan Adinia Wirasty dan Reza Rahardian sebagai pemeran utama membuat sosok Ale dan Anya dalam imajinasi pembaca bisa terwujud nyata. Keseluruhan cerita dalam novel bisa tersampaikan dengan utuh dan cantik dalam film. Apalagi chemistry dua tokoh utama film ini tidak perlu diragukan lagi. Kekuatan karakter sosok Anya bahkan berhasil membawa Adinia Wirasty menyabet penghargaan pemeran utama wanita terbaik dalam Festival Film Bandung. 

Membaca novel dan menonton film Critical Eleven sama-sama membutuhkan bekal tisu yang banyak. Kita akan diajak menangis dan tertawa menyelami manis pahitnya kisah hidup Ale dan Anya. 

Diceritakan dari dua sudut pandang yang bergantian antara Anya dan Ale, membuat kita akan memilih di akhir cerita. Apakah kita termasuk tim Ale atau tim Anya?

*Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas resensi buku dan film kelas Non Fiksi ODOP batch 5 dan juga tugas RCO 3
#tugasRCO3 #Tugas2Level3 #OneDayOnePost #kelasnonfiksi #tantanganpekan4

Kamis, 26 April 2018

Marshanda dan Bipolar

Semangat pagi Penikmat Kopi.

Beberapa waktu lalu dunia 'lambe-lambean' kembali dihebohkan dengan tulisan artis cantik, Marshanda, pada akun media sosial tentang curahan hatinya. Marshanda menuliskan tentang rasa rindu kepada putrinya yang saat ini diasuh oleh sang mantan suami, Ben Kasyafani. 

Sejak bercerai tiga tahun lalu, hak asuh Sienna jatuh ke tangan Ben. Hal ini karena Marshanda dinyatakan mengidap suatu penyakit yang dinamakan bipolar. Berjuang seorang diri untuk menghadapi penyakit ini ditambah dengan terpisah dari putri kecilnya membuat Marshanda terkadang kembali merasa depresi. 

Dalam curahan hati di media sosial beberapa waktu lalu, dia merasa kalau dirinya adalah orang tua yang tidak memadai dan tidak mampu. Dia merasa rindu dan kehilangan masa-masa berharga bersama sang putri tercinta. Penyakit bipolar membuat dunianya hancur, membuat dia harus kehilangan segalanya terutama Sienna. 

Sebagai seorang ibu, saya merasa trenyuh dengan tulisan Marshanda tersebut. Tidak ada yang menginginkan sakit datang menerpa. Apalagi sakit ini sangat tidak enak didengar telinga. Bipolar belum familiar di tengah kita. Orang hanya menangkap kulit luarnya, penyakit mental. 

Bipolar adalah gangguan mental yang menyerang kondisi psikis seseorang, ditandai dengan perubahan suasana hati yang sangat ekstrem berupa manik (kebahagiaan) dan depresi (kesedihan). 

Membaca tentang pengertian bipolar ini, saya langsung takut, karena saya pun tergolong orang yang gampang senang dan gampang sedih. Apa itu berarti saya juga pengidap bipolar?

Ternyata seseorang yang mengalami gangguan bipolar itu memiliki mood swings yang ekstrem dengan pola perasaan yang mudah berubah secara drastis. Suatu saat dia bisa merasa antusias, bersemangat dan bahagia. Tapi tiba-tiba suasana hatinya bisa berubah buruk, sangat depresi, pesimis, putus asa bahkan sampai terpikir untuk bunuh diri. Bisa juga penderita bipolar ini mengalami fase campuran antara manik dan depresi. 

Gangguan bipolar dibagi menjadi bipolar I, bipolar II, cylothymia dan jenis lainnya berdasarkan sifat dan pengalaman tingkat keparahan suasana hati yang digambarkan sebagai spektrum bipolar. Gangguan bipolar saat ini sudah menjangkiti sekitar 10 hingga 12 persen remaja di luar negeri. Di beberapa kota di Indonesia juga mulai dilaporkan adanya penderita bipolar yang rata-rata berusia remaja. Resiko paling mengerikan dari gangguan bipolar ini adalah resiko kematian akibat depresi yang dialami penderita. 

Bipolar disebabkan oleh beberapa faktor seperti genetis, fisiologis dan lingkungan. Seseorang dengan gen bipolar akan memiliki peluang lebih besar untuk terkena penyakit ini. Dari segi fisiologis, bipolar disebabkan oleh terganggunya keseimbangan cairan kimia utama di dalam otak. Sedangkan dari sisi lingkungan, munculnya bipolar bisa dipicu oleh kondisi stres, mengkonsumsi alkohol dan zat-zat terlarang atau kurang istirahat. 

So, be aware Penikmat Kopi.

Bukan hanya Marshanda yang bisa terkena penyakit bipolar ini. Siapapun bisa terserang termasuk kita. Oleh karena itu, menjalani semua aktifitas sehari-hari dengan rasa ikhlas dan bersyukur itu sangat penting. Jangan sampai kesibukan membuat kita stres dan kurang istirahat. Berbahaya. Penyakit bipolar menanti di depan mata. Jaga baik-baik perasaan dan kestabilan mood kita. Seberat apapun masalah yang kita hadapi dalam hidup, jangan lupa untuk bahagia. 

*Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tantangan OPINI pada kelas NON FIKSI ODOP Batch 5
This entry was posted in

Senin, 23 April 2018

Tercorengnya Kembali Wajah Dunia Pendidikan

Semangat pagi Penikmat Kopi.

Tragedi kekerasan dalam dunia pendidikan kembali terjadi. Seorang guru SMK di Purwokerto menampar muridnya dengan keras di depan kelas. Peristiwa yang terjadi pada Kamis, 19 April 2018 ini menambah daftar hitam dunia pendidikan.

Sang guru melakukan tindakan ini dengan sengaja bahkan dia meminta agar direkam dalam sebuah video. Tampak dalam video tersebut betapa keras tingkat tamparan yang diberikan pada siswanya. Dalam video klarifikasi yang diunggah setelah kejadian, sang guru mengatakan bahwa tujuannya memukul adalah dalam rangka mendidik siswa-siswanya. Dia juga mengatakan kalau dulu dididik dengan cara kekerasan. Ia memahami rasa sakit itu sebagai pengingat agar para siswa tidak bertindak keterlaluan lagi. 

Najeela Shihab dalam bukunya yang berjudul Keluarga Kita mengatakan jika pola pengasuhan atau pendidikan pada masa lalu memang akan sangat berpengaruh pada kehidupan seseorang. Pola disiplin, penyelesaian konflik maupun tujuan belajar seseorang dipengaruhi oleh pola pengasuhan atau pendidikan masa lalunya. Anak yang dibesarkan dengan pola kekerasan akan merekam secara terus menerus pengalaman buruk ini di bawah alam bawah sadarnya. Suatu saat dia akan melakukan tindakan kekerasan yang sama bahkan lebih pada anak yang dididiknya.

Jumlah kasus kekerasa di sekolah tidak bisa dibilang sedikit. Dalam tiga bulan pertama tahun 2018 ini saja Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) telah menerima banyak pengaduan terkait kekerasan terhadap anak didik. Pelakunya beragam, mulai dari guru, kepala sekolah, petugas sekolah lainnya  hingga sesama anak didik. 

Dari data di KPAI diketahui jika kekerasan fisik dan anak korban kebijakan mendominasi pengaduan pada triwulan ini yaitu mencapai 72 persen. Sedangkan kekerasan psikis sebanyak 9 persen, kekerasan finansial atau pemalakan/pemerasan mencapai 4 persen dan kekerasan seksual ada 2 persen. Selain itu, ada 13 persen kasus yang viral di media sosial tidak dilaporkan tapi tetap dilakukan pengawasan oleh KPAI.


Diperlukan kerjasama dari berbagai pihak untuk mengatasi masalah kekerasan dalam dunia pendidikan. Bukan hanya pihak sekolah saja yang harus memutus mata rantai tindak kekerasan ini. Pemerintah melalui Kementrian Pendidikan harus meningkatkan intensitas pembinaan tenaga pendidik. Memberikan pelatihan tentang cara mendidik dengan pola yang lebih asyik dan cara yang lebih modern. Bukan hanya modern dari segi teknologi tapi modern dalam membangun kedekatan dengan para siswa. 

Kerjasama dari wali siswa juga sangat diperlukan untuk mewujudkan suasana pembelajaran yang kondusif di sekolah. Memberikan pemahaman pada anak untuk selalu menghormati guru perlu dilakukan.Tak sedikit kasus kekerasan terjadi karena sang guru dipicu emosi karena kurang hormatnya siswa zaman now pada guru dan instansi pendidikan. 

KPAI dan pihak yang berwajib juga perlu mengadakan pembinaan maupun sosialisasi tentang sebab akibat tindak kekerasan pada anak. Sosialisasi dan pembinaan ini tidak hanya dilakukan pada guru tapi juga pada siswa dan wali siswa agar semua semakin sadar betapa pentingnya memutus rantai tindakan kekerasan pada anak dan siswa.

 *Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tantangan OPINI pada kelas NON FIKSI ODOP Batch 5
This entry was posted in

Sabtu, 21 April 2018

Usai Bukan Selesai

Semangat pagi Penikmat Kopi.

Tiga puluh hari itu ternyata gak lama ya. Tanpa terasa kami para peserta #30DWCJilid12 sudah sampai di penghujung masa. Program 30 day's writing challenge telah usai, tapi bukam berarti langkah kami dalam dunia kepenulisan telah selesai. Masih panjang perjalanan kami untuk menimba ilmu dalam dunia ini. Ada cita-cita besar yang harus dicapai. 

Ada beberapa hal menarik yang perlu aku catatkan selama mengikuti program ini. Ada kata-kata dari mentor yang cukup membuatku berpikir. Apa tujuanmu menulis? Apakah hanya untuk menjaga konsistensi menulis setiap hari? Apa manfaat tulisan-tulisanmu selama ini? Apa yang kamu tulis sudah bisa dikatakan sebagai rancangan naskah bukumu?

Aku terpaksa mengingat lagi tujuanku menulis. Aku menulis untuk bahagia. Tujuan yang ini memang masih untuk diri sendiri. Dan dengan rutin menuliskan apa yang ada dalam pikiran setiap hari, aku rasa cukup membuatku bahagia. Menulis bisa menjaga kewarasan diriku untuk berada pada tingkat stabil. 

Tujuan berikutnya adalah berbagi kebaikan melalui tulisan. Selama ini aku pikir dengan berbagi pengalaman kehidupanku sehari-hari akan cukup membawa kebaikan untuk orang lain. Meski tidak banyak setidaknya ada sejumput hikmah yang bisa dipetik dari ceritaku. Ada sedikit manfaat yang bisa dipelajari dari kisah hidupku. 

Tapi kata-kata dari mentor membuatku menelaah kembali semua proses ini. Terbersit bayangan untuk mengemas tulisan-tulisanku dalam bentuk yang lebih baik dan dibukukan. Bukankah itu akan lebih bermanfaat bagi pembacanya? 

Ah, buku. Untuk yang satu ini idealismeku terlalu tinggi. Aku selalu menyamakan penulis dengan penyanyi. Keduanya bisa diterbitkan melalui dua jalan, mayor dan indi. Butuh kerja keras untuk menjadi penulis dan penyanyi yang dilahirkan dari jalan mayor. Tulisan dan suaramu harus dipastikan benar-benar bagus sebelum dinikmati oleh orang-orang di luar sana. Harus banyak berlatih, harus sabar melaui berkali-kali penolakan. Tapi ketika kamu berhasil, tulisan dan lagumu benar-benar bisa dinikmati dengan baik dan nyaman oleh pembaca dan pendengarnya. 

Lalu bagaimana dengan buku dan lagu indi? Sebenarnya banyak penulis dan penyanyi yang menerbitkan buku dan lagunya secara indi tapi memiliki kualitas yang bagus. Tapi banyak juga yang menempuh jalan ini demi status dikenal sebagai seorang penulis dan penyanyi. Ketika kalian mendengarkan deretan lagu masa kini, pasti pernah berkomentar, "Ini lagu apa sih? Kayak gini kok bisa 'dijual'?" 

Dari kualitas lagu, lirik apalagi dari teknik vokal penyanyinya banyak yang sebenarnya belum layak untuk dibilang penyanyi. Nah, yang semacam ini apa bisa dibilang bermanfaat? 

Analoginya sama dengan penulis. Gak jarang aku menemukan buku-buku teenlit ataupun genre lain di toko buku yang dicetak dari penerbit kurang terkenal. Banyak dari mereka isi ceritanya mirip-mirip. Gak ada ide baru. Itu buku yang diterbitkan secara mayor lho. Hanya penerbitnya tidak terlalu besar. Itu saja sudah seperti acara telivisi yang harusnya gak layak lolos saringan KPI tapi entah bagaimana bisa tayang setiap hari. Apalagi dengan buku yang diterbitkan secara indi. Tanpa banyak melalui proses editing dan pengolahan tulisan lebih jauh lagi tiba-tiba ribuan eksemplar buku indi beredar.

Nah, pertanyaan-pertanyaan dari mentor #30DWC berhasil menguliti idealismeku ini. Ketika kamu berstatus menerbitkan buku, apakah tulisan-tulisanmu itu sudah layak? Apa manfaat dari tulisan-tulisanmu? Apa semua tulisan yang akan kamu terbitkan sudah layak disebut sebagai naskah? 

Ya mentor, #30DWCJilid12 telah usai tapi perjuanganku untuk  belajar membuat tulisan yang bermanfaat dan tulisan yang layak disebut naskah buku belum selesai. Aku masih butuh ditempa dan dikritik oleh banyak pembaca. Aku harus menambah daftar tujuan menulisku, bukan hanya untuk bahagia dan bermanfaat saja. Aku harus menjadi penulis buku agar tulisan-tulisanku memiliki kebermanfaatan yang lebih besar bagi pembacanya.





#30DWC #30DWCJilid12 #Squad3 #Day30

Kamis, 19 April 2018

Resensi Buku: Ayahku (Bukan) Pembohong



Judul: Ayahku (Bukan) Pembohong

Penulis: Tere Liye

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Kota Penerbitan: Jakarta

Tahun Terbit: 2011

Cetakan: Keempatbelas, Januari 2016

Ketebalan: 299 halaman

ISBN: 978-979-22-6905-5

Sudah lama aku ingin mengadopsi buku ini dari rak toko. Hanya saja cerita bertema ayah membuat tanganku berat untuk mengambilnya. Meski hubunganku dengan ayah baik-baik saja, setidaknya dilihat dari kulit luarnya, tapi seperti masih ada gumpalan yang menyesakkan dada.

Selasa, 17 April 2018

Blog, Kepingan Puzzle Cerita Hidupku

Semangat pagi Penikmat Kopi.

Tau gak sih, beberapa hari lalu aku menemukan sebuah catatan dari memori facebook. Di sana tertulis kalau aku punya blog yang berjudul DuniaKataKu. Astaga ini benar-benar seperti menemukan harta karun di dasar lautan. 

Mataku berbinar dan jariku bergerak cepat menelusuri alamat yang tertera. Memoriku berjalan mundur ke masa lalu. Aku tersenyum sendiri membaca satu per satu tulisan yang ada di dalamnya. Oh Tuhan, semua tulisan ini mengingatkanku akan semua peristiwa di masa itu.

Selama ini aku menyangka blog pertamaku adalah Sejuta Kata. Ternyata aku salah, tulisan pertama DuniaKataKu tertanggal 2 Januari 2009. Sedangkan tulisan pertama Sejuta Kata tertanggal 5 Juni 2012. Tapi keduanya memiliki kesamaan yaitu sama-sama tak teringat alasan dan motivasiku membuat blog-blog itu. Satu hal yang pasti, semua tulisan yang ada di dalamnya benar-benar melengkapi susunan puzzle cerita hidupku.

Meski sebenarnya ada lagi yang lebih tua dari dua blog itu. Pada masa kuliah tahun 2003 sampai 2007 aku juga sudah aktif menulis. Dulu sosial media yang paling banyak dipakai adalah friendster. Platform ini menyediakan menu blog khusus untuk penggunanya. Banyak puisi yang aku tuliskan di sana. Setelah friendster menghilang, hanya sebagian saja yang masih sempat aku selamatkan. Catatan masa mudaku, masa perjuangan dan masa penuh kegalauan. Semua cerita masa kuliah mulai dari beratnya belajar di sekolah kedinasan, kehidupan sebagai anak kosan yang jauh dari orang tua dan tak ketinggalan cerita cinta anak muda. Termasuk pula cerita pertemuan dengan pujaan hati yang sekarang menjadi pendamping hidupku. Friendster dan friendster's blog menjadi saksi perjalanan cinta kami.

Sejuta Kata yang aku kira adalah blog pertamaku berisi tentang catatan hidup setelah 3 tahun masa menikah. Sebagian besar isinya menceritakan tentang keluarga, kehidupan kantor, dan juga kegemaranku menulis. Karya berupa puisi sudah berkurang jumlahnya dibanding masa menulis di friendster dulu. Tulisan-tulisanku dalam blog bisa dibilang memiliki genre full curhat

Tapi sungguh tidak ada yang salah dengan tulisan berisi curhat. Karena ketika membacanya kembali, aku bisa menertawakan masa lalu dan mensyukuri masa kini. Itulah gunanya menulis. Tulisan-tulisanku dalam blog seperti kepingan puzzle cerita hidupku. Tak banyak orang yang mampu menuliskan kisah hidupnya. Dan aku bisa. Tak banyak orang yang mampu mengingat secara detail apa saja yang pernah dilalui di masa lalu. Dan tulisanku bisa. 

Setelah menemukan blog pertamaku beberapa hari lalu, aku membacanya dengan perlahan. Ahhhhh, aku terbuai kembali pada masa lalu. Tahun 2009 adalah masa penuh warna. Perjuangan mempertahankan cinta menuju pernikahan, kehamilan pertamaku yang berujung keguguran, kehilangan ibu yang sama sekali tak bisa aku saksikan dan juga cerita bahagia tentang kelahiran.

Tulisan yang aku baca bukan jenis blog dengan tata bahasa yang sempurna. Benar-benar hanya sebuah catatan harian yang menyampaikan isi hati dan pikiran. Tapi sekali lagi tak ada yang salah dengan genre curhatan. Karena tak semua orang mampu mengenang kembali masa lalu seperti yang aku lakukan.

Semua blog yang pernah aku punya mungkin tidak sama dengan milik kalian. Ada yang menggunakan blog untuk mencari pundi-pundi, ada yang menggunakan blog untuk sarana menebar ilmu yang perlu dibagi. Dan aku, memanfaatkan blog untuk menyimpan kepingan puzzle cerita hidupku. 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Sinizam.com yang diadakan oleh khoirun nizam.sekaligus menjadi cara mensyukuri penemuan harta karun blog pertamaku.


#odopbatch5 #Onedayonepost #tantangankelasnonfiksi #odop #lombablog
#30DWC #30DWCJilid12 #Squad3 #day27

Cintaku dari Desa

Semangat pagi Penikmat Kopi.

Bertemu dengan seseorang yang berasal dari desa tak membuat cintaku berkurang padanya. Dia yang telah berjuang untuk masa depan yang lebih baik dengan merantau jauh dari desanya. Dia berasal dari keluarga petani sederhana. Kalaupun dia menjadi seperti sekarang ini, tak lain karena perjuangan berpeluh dari kedua orang tuanya. 

Berulang kali dia cerita tentang asal muasalnya dari desa, aku hanya membayangkan bentangan sawah nan hijau dan gemericik air sungai di sekitarnya. Sepertinya akan menyenangkan ada di sana. 

Sampai datanglah waktu yang dinanti. Dia mengajakku ke desa, berkenalan dengan orang tuanya. Matahari belum menampakkan sinarnya kala itu. Kucoba membuka mata  meski berat demi bisa menikmati apa saja yang bisa kulihat. Ah, tak salah imajinasiku selama ini. Bentangan sawah hijau nan luas ada di depan mata. Meski saat itu lebih tepat dikatakan hitam karena masih gelap. 

Tapi bukan di sana rumah Si Cinta. Meninggalkan bentangan sawah, kami pun mulai memasuki sebuah jalan kecil dengan pepohonan yang rapat di kiri dan kanan. Lampu penerangan tak cukup membantuku untuk mencari jawaban di mana kami berada. Jarak dari satu rumah ke rumah berikutnya terpisahkan oleh bermacam-macam pepohonan. Sunyi dan sepi. 

Oh Tuhan, ini bukan desa. Sepertinya lebih tepat kalau aku menyebutnya hutan. 

Lamunanku buyar ketika mobil berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang dikelilingi pepohonan. Aku yang tak cukup baik mengenal nama-nama pohon hanya bisa mengidentifikasi pohon kelapa. 

Sambutan hangat dari calon mertua membuatku lupa pada pertentangan pikiran hutan atau desa. Usahaku untuk tampil sebaik mungkin di depan mereka membuat pikiranku sejenak beralih. Sampai matahari mulai menampakkan senyumnya, akhirnya aku kembali pada imajinasiku kala itu.

Tak ada bentangan sawah atau suara gemericik air sungai. Hanya pepohonan sepanjang mata memandang yang membuat matahari muncul malu-malu di sela-selanya. Aku menarik nafas panjang menikmati udara sejuk di samping rumah. Induk ayam dan anak-anaknya mulai berlarian mencari makan. Kambing-kambing pun mulai mengeluarkan suara menyambut pagi yang cerah. Dan inilah desa, tempat kelahiran Si Cinta.

#30DWC
#30DWCJilid12
#Squad3
#day26
#tema
#desa